LingkunganPalu

Lelah Tak Bertepi Tangani Sampah Laut Kiriman di Teluk Palu

×

Lelah Tak Bertepi Tangani Sampah Laut Kiriman di Teluk Palu

Share this article
sampah kiriman
Sejumlah relawan membersihkan sampah kiriman yang menumpuk di Pantai Dupa, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (3/3/2024). Sampah kiriman di kawasan konservasi mangrove itu datang dan menumpuk secara periodik selama November-Maret atau periode angin Barat dan sulit dihindari karena menjadi siklus tahunan. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

PALU, beritapalu | Belum sepekan berselang dibersihkan, kini kawasan koservasi mangrove yang terletak di Pantai Dupa, Teluk Palu, ditumpuki sampah kiriman kembali. Sampah potongan kayu dan plastik berserak kemana-mana sepanjang kawasan itu.

Puluhan relawan yang tergabung dalam komunitas Mangrover’s Teluk Palu terlihat beramai-ramai membersihkan sampah itu. Pembersihan sampah itu rutin dilakukan hampir setiap pekan selama periode angin barat yang berlangsung November hingga Maret ini. Jika tidak, tumpukannya dipastikan akan menggunung dan mengancam kelangsungan mangrove yang saat ini sedang dalam fase pertumbuhan.

Muhammad Najib, koordinator Mangrover’s Teuk Palu menyebut, sampah-sampah itu sulit dibendung karena dibawa oleh angin laut. Keberadaannya ditentukan oleh arah tiupan angin, terutama dari barat.

“Jadi kami hanya bisa membersihkan setiap sampah kiriman ini datang. Karena kalau tidak, pasti akan membunuh pohon-pohon bakau yang sudah mulai tumbuh,” sebutnya.

sampah kiriman
Tumpukan sampah kiriman di kawasan konservasi mangrove Pantai Dupa, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (3/3/2024). (bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Ibarat “lelah tak bertepi” kata Najib, relawan dan pemerhati lingkungan yang saban pekan datang membersihkan hanya bisa berharap agar siklus alam itu tidak mengendorkan semangatnya.

“Kami hanya ditolong oleh kepedulian, kalau rasa itu sudah hilang, tamatlah riwayat mangrove-mangrove ini karena sampah-sampah ini,” imbuh Najib lagi.

Sampah-sampah kiriman itu datang tidak dalam jumlah yang sedikit, melainkan secara bergerombol saat terjadi pasang air laut, merangsek ke celah-celah bakau dan lalu nangkring di pantai di sekitarnya saat air surut.

“Kalau sampah kirimannya hanya berupa potongan-potongan kayu mungkin tdak cukup mengkhawatirkan, tapi ini banyak yang berupa plastik. Plastik ini akan melilit pohon bakau yang jika dibiarkan akan mencekiknya,” jelasnya.

Sampah kiriman itu menurut Najib adalah satu soal. Tapi soal lainnya adalah hasil pembersihan atau pengumpulan sampah yang jumlah tidak sedikit. Najib mengaku, sampah-sampah yang dikumpulkan itu kerap dibakar karena tidak ada tempat pembuangan, meskipun diakuinya pula bahwa tindakan itu kurang dapat diterima.

“Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin sampah yang sudah kita kumpulkan itut kita buang kembali ke laut,” ujarnya.

Terhadap soal pembuangan sampah itu, Najib mengutarakan jika dirinya selalu meminta tolong ke dinas terkait untuk membantu pembuangannya, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu yang mengurusi soal kebersihan kota.

“Tapi setiap dihubungi hanya dijanji akan datang mengangkat sampah-sampah yang telah dikumpulkan itu, kenyataannya tidak pernah datang. Yah, dari pada terus menumpuk, biarlah kita bakar saja,” ujarnya kesal.

Pegiat literasi dan lingkungan di Palu, Neni Muhiddin yang berkesempatan melihat langsung kondisi pantai itu geleng-geleng kepala menyaksikan serakan sampah tersebut. Ia bahkan nyaris tidak percaya dengan pemandangan pantai yang seharusnya lebih menyejukkan karena berada di kawasan konservasi.

“Ini seharusnya menjadi otokritik bagi Pemkot Palu yang baru saja mengumumkan telah berhasil meraih piala Adipura, bahwa kebersihan dan penataan lingkungan itu tidak semata hanya melihat bagian luarnya. Apakah kita sudah melihat sisi lainnya, seperti sampah di Pantai Dupa ini?” ujar Neni.

Ia juga terus menyemangati para relawan untuk tetap teguh dengan kepedulian tanpa pamrihnya terhadap lingkungan. Bahkan menantang untuk tidak pasrah dan menerima begitu saja terhadap persoalan sampah kiriman ini.

“Ini mesti ada solusinya, kita mesti harus duduk bersama dengan para pihak untuk membahasnya, apakah akan melibatkan anak-anak sekolah secara periodic atau dengan cara lain. Karena kalau melihat serakan sampahnya, belum kita bersihkan sudah capek melihatnya,” ujar Neni. (afd)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 3 March, 2024
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.