PALU, beritapalu.ID | Pemandangan unik ini mewarnai aksi unjuk rasa memperingati May Day yang berlangsung di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi, Jumat (1/5/2026). Di tengah kepulan uap dari gerobak, suasana ketegangan yang biasanya identik dengan demonstrasi massa seolah mencair bersama hangatnya kuah kaldu yang disajikan khusus untuk para buruh dan mahasiswa.
Aksi penyampaian aspirasi yang diikuti oleh ratusan massa dari berbagai aliansi organisasi buruh dan mahasiswa ini mendapatkan pengawalan ketat. Polresta Palu menerjunkan sedikitnya 463 personel untuk memastikan keamanan di sepanjang titik konsentrasi massa. Namun, alih-alih hanya mengandalkan barikade fisik, pihak kepolisian memilih pendekatan humanis dengan menghadirkan konsumsi gratis bagi para peserta aksi.
Setidaknya ada lima gerobak bakso yang “nangkring” dengan rapi di sekitar area unjuk rasa. Kehadiran para pedagang bakso ini menjadi daya tarik tersendiri di tengah riuhnya orasi yang menggema melalui pengeras suara. Para pengunjuk rasa tampak mengantre secara bergantian untuk mendapatkan semangkuk bakso hangat tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Langkah ini sengaja diambil oleh Polresta Palu sebagai upaya agar proses penyampaian aspirasi berjalan lebih lancar dan kondusif. Dengan perut yang kenyang dan suasana yang lebih rileks, diharapkan emosi massa tetap terjaga selama berada di lapangan. Strategi pengamanan “perut kenyang” ini pun terbukti efektif memberikan warna berbeda pada peringatan hari buruh tahun ini.
Cuaca di Kota Palu siang itu pun seolah turut mendukung suasana damai tersebut. Matahari yang biasanya menyengat dengan terik di hari-hari sebelumnya, kali ini terasa lebih bersahabat dan adem bagi siapa pun yang beraktivitas di bawah langit terbuka. Kondisi alam yang sejuk berpadu sempurna dengan semangkuk bakso gratis yang dinikmati para massa di trotoar jalan.
Meski mendapatkan fasilitas makanan gratis, hal itu sama sekali tidak melunturkan semangat para pengunjuk rasa. Di sela-sela waktu makan, mereka tetap lantang menyuarakan berbagai tuntutan dan kebijakan yang dianggap belum berpihak pada kesejahteraan kelas pekerja di momen May Day tersebut. Bakso bukan menjadi sarana pembungkam, melainkan bahan bakar tambahan bagi orasi-orasi mereka.
Pemandangan yang paling menyentuh justru terlihat di sudut-sudut lain area demonstrasi. Terjalin suasana akrab yang tak biasa antara pengunjuk rasa dan personel pengamanan yang berjaga. Tanpa sekat perbedaan tugas, kedua pihak ini duduk bersila bersama di trotoar jalan sembari menikmati bakso dan berbincang ringan.
Interaksi ini menunjukkan sisi lain dari wajah pengamanan demonstrasi di Indonesia yang semakin mengedepankan dialog dan persaudaraan. Polisi tidak lagi hanya dilihat sebagai penjaga garis batas, tetapi juga rekan diskusi di pinggir jalan. Solidaritas sosial tampak tumbuh di atas wadah mangkok plastik yang mereka pegang.
Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di Kota Palu pun berakhir dengan kesan yang mendalam bagi semua pihak. Melalui lima gerobak bakso sederhana, pesan tentang ketertiban, kedamaian, dan saling menghargai tersampaikan dengan cara yang paling dekat dengan hati masyarakat.
View this post on Instagram











