Jaringan think tanks dan organisasi sipil Asia Tenggara (SETC) keluarkan pernyataan bersama mengusulkan Southeast Asia Energy Transformation Initiative (SEA-ETI). Organisasi desak akselerasi energi terbarukan, efisiensi energi, investasi hijau, dan kerja sama regional untuk membangun ketahanan energi jangka panjang.
JAKARTA, beritapalu.ID | Jaringan Kolaboratif Transisi Energi Asia Tenggara (SETC), yang terdiri dari lembaga think tanks independen dan organisasi masyarakat sipil di kawasan, mengeluarkan pernyataan bersama pada 6 Mei 2026.
Pernyataan menegaskan bahwa krisis energi saat ini, meski disruptif, menawarkan momentum strategis untuk mempercepat transisi energi berkelanjutan dan adil di seluruh Asia Tenggara. SETC mengusulkan bahwa pemerintah dan stakeholder regional tidak boleh terjebak dalam taktik penanganan krisis jangka pendek seperti subsidi dan penyesuaian pajak, tetapi harus memanfaatkan momentum ini untuk merancang reformasi struktural yang mengubah arsitektur energi kawasan secara fundamental.
SETC mengidentifikasi bahwa krisis energi telah menyoroti kerentanan struktural Asia Tenggara terhadap ketergantungan pada bahan bakar fosil, khususnya di sektor listrik dan transportasi. Gangguan geopolitik dan volatilitas pasar menyebabkan kekurangan bahan bakar, inflasi tinggi, tekanan harga listrik, dan meningkatnya beban fiskal pada pemerintah. Dampak paling akut dirasakan oleh rumah tangga berpenghasilan rendah, usaha kecil, dan negara-negara pengimpor energi. Organisasi ini menekankan bahwa meskipun pemerintah telah menerapkan langkah-langkah darurat, intervensi taktis saja tidak cukup untuk menjamin ketahanan energi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Ketahanan energi dan transisi energi merupakan tujuan kebijakan yang tidak dapat dipisahkan. Mengurangi ketergantungan terhadap pasar bahan bakar fosil yang volatil membutuhkan percepatan pemanfaatan energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, dan penguatan kerja sama regional.”
“Asia Tenggara tidak hanya harus bertahan dari volatilitas saat ini, tetapi juga dapat membangun sektor energi yang lebih kompetitif dan mandiri.”
— SETC
Sebagai respons terhadap situasi ini, SETC mengusulkan Southeast Asia Energy Transformation Initiative (SEA-ETI), sebuah kerangka komprehensif yang berfungsi sebagai jembatan antara penanganan krisis jangka pendek dan perombakan struktural jangka panjang dari arsitektur energi kawasan. SEA-ETI dioperasionalisasikan melalui empat pilar yang saling memperkuat. Pertama, percepatan penyebaran dan integrasi energi bersih melalui reformasi regulasi, penyederhanaan perizinan, dan kesiapan jaringan listrik untuk mempercepat pemanfaatan sumber energi terbarukan domestik, termasuk ekspansi Jaringan Listrik ASEAN dan perdagangan listrik lintas negara. Kedua, pembangunan Asia Tenggara sebagai pusat manufaktur dan perdagangan energi bersih untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok eksternal dan meningkatkan kedaulatan energi jangka panjang.
Ketiga, penguatan mekanisme investasi dan pembiayaan hijau melalui pengembangan platform investasi hijau tingkat ASEAN, adopsi Taksonomi Hijau ASEAN yang selaras dengan standar global, dan instrumen pengurangan risiko untuk menarik modal swasta guna menjaga investasi energi bersih tetap berkelanjutan bahkan saat krisis. Keempat, peningkatan koordinasi kebijakan dan pengembangan tenaga kerja melalui keselarasan kebijakan melampaui siklus kepemimpinan ASEAN, transparansi data, pengembangan tenaga kerja, dan strategi transisi yang adil untuk memberdayakan komunitas lokal, pemerintah daerah, dan kelompok rentan.
Berdasarkan pengalaman kolektif mitra SETC, organisasi menyoroti empat prioritas bersama: percepatan pengembangan energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan fossil fuel dan impor, peningkatan efisiensi energi dan inisiatif permintaan sebagai solusi tercepat dan hemat biaya, proteksi kelompok rentan melalui kebijakan energi yang transparan dan berkeadilan sosial, serta penguatan kerja sama regional khususnya dalam pengembangan interkoneksi listrik lintas negara. SETC menekankan bahwa krisis energi merupakan momen yang menentukan bagi Asia Tenggara untuk membangun masa depan energi yang lebih tangguh, terjangkau, dan berkelanjutan melalui kepemimpinan regional yang terkoordinasi dan kebijakan inklusif. Organisasi tetap berkomitmen bekerja sama dengan pemerintah, lembaga ASEAN, dan pemangku kepentingan untuk mewujudkan peluang ini menjadi transformasi yang berkelanjutan.





