LS-ADI menggelar FGD bertema pendidikan dan tantangan lingkungan dengan tiga narasumber: Dekan FTIK UIN Palu, Sekretaris DLH Kota Palu, dan Dewan Pendiri LS-ADI. Ketiganya sepakat bahwa akar masalah adalah cara pandang manusia — bukan sekadar soal sampah atau regulasi.
PALU, beritapalu.ID | Organisasi Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Hadapi Tantangan Lingkungan Melalui Pendidikan yang Berkarakter dan Berkelanjutan” di Palu, Rabu (6/5/2026) malam. Tiga narasumber dari latar berbeda — akademisi, aktivis, dan pemerintah — memberikan pandangan yang saling melengkapi: krisis lingkungan tidak akan terselesaikan tanpa perubahan cara pandang manusia, mulai dari ruang kelas hingga cara kita melihat sampah.
Dekan FTIK UIN Datokarama Palu, Prof. Dr. Saepudin Mashuri menyoroti pentingnya membangun kesadaran ekologis sejak dini melalui pendidikan formal. Ia mendorong agar praktik peduli lingkungan sudah diimplementasikan di sekolah-sekolah dan menjadi bagian dari pembentukan karakter anak sejak kecil. Menurutnya, keberhasilan program ini membutuhkan keterlibatan lintas sektor — dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga pemerintah — dengan gagasan konkret seperti masjid hijau, sekolah hijau, pasar hijau, hingga kota hijau.
“Kalau semua hadir — pemerintah melalui pekerjaannya hadir, penganggarannya hadir, teknologi lingkungannya hadir, SDM hadir, dan program itu masuk dari bagian pemerintah pendidikan secara masif — krisis lingkungan itu bisa kita turunkan.”
— Prof. Dr. H. Saepudin Mashuri, Dekan FTIK UIN Datokarama Palu
Dewan Pendiri LS-ADI, Muhammad Sadig, M.A., Hum., menyorot persoalan yang lebih mendasar: cara pandang generasi muda terhadap lingkungan dan masa depan. Ia menilai persoalan sampah sejatinya bukan soal sampah itu sendiri, melainkan soal apakah manusia mampu mengubah cara melihatnya — dari sesuatu yang tidak bernilai menjadi peluang ekonomi dan inovasi. Ia juga menantang mahasiswa untuk tidak sekadar berorientasi mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan kerja melalui kreativitas, termasuk di bidang pengelolaan lingkungan.
“Sampah itu tidak bernilai. Tapi bagaimana kau berubah sehingga dia jadi bernilai.”
“Teman-teman mahasiswa saat ini tidak sadar. Karena mereka berpikir masih enak-enak saja. Padahal dipertontonkan dengan pemanasan dunia, El Niño, segala hal — tapi kita tidak memiliki kesadaran.”
— Muhammad Sadig, M.A., Hum., Dewan Pendiri LS-ADI
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir, memberikan perspektif teknis-ilmiah: alam sesungguhnya memiliki kemampuan memulihkan diri, selama pemanfaatan sumber daya tidak melampaui daya dukung dan daya tampungnya. Ia mengajak peserta memahami dampak bahan kimia melalui buku klasik Silent Spring sebagai contoh nyata bagaimana polutan masuk ke rantai makanan dan berujung pada krisis kesehatan manusia.
“Semua sesuatu itu bisa dieksplorasi yang penting tidak melewati dua hal: tidak melewati daya tampung, tidak melewati daya dukung. Artinya apa? Alam punya kemampuan merecovery.”
— Ibnu Mundzir, Sekretaris DLH Kota Palu
FGD yang dihadiri kalangan mahasiswa dan aktivis lingkungan ini menegaskan satu benang merah dari ketiga narasumber: tantangan lingkungan bukan sekadar masalah teknis yang bisa diselesaikan dengan regulasi atau teknologi semata, melainkan persoalan cara pandang — dan pendidikan adalah pintu masuk paling strategis untuk mengubahnya.











