Komunitas Tongbasuara dan organisasi sipil meluncurkan Program Sekolah Lingkungan di SMK Negeri 2 Palu. Program 6 bulan melibatkan tujuh SMA sederajat dengan fokus pada 3 pilar: mindset, action, dan network — menghasilkan inovasi lingkungan praktis dan generasi tangguh menghadapi perubahan iklim.
PALU, beritapalu.ID | Komunitas Tongbasuara dan sejumlah organisasi sipil meluncurkan Program Sekolah Lingkungan, inisiatif pendidikan berbasis lingkungan bagi pelajar SMA sederajat di Kota Palu, Kamis (7/5/2026).
Sosialisasi pertama berlangsung di SMK Negeri 2 Palu dengan menghadirkan puluhan pelajar dan guru pendamping dari tujuh sekolah menengah atas di Kota Palu. Program ini dirancang sebagai ruang belajar partisipatif yang membentuk generasi tangguh menghadapi perubahan iklim dan kebencanaan melalui pertukaran pengetahuan lintas sektor.
Program Sekolah Lingkungan dibangun melalui tiga pilar transformasi utama: mindset, action, dan network. Pada aspek mindset, siswa diajak memahami kondisi kota, perubahan iklim, dan konsep kota resilien melalui proses belajar yang dekat dengan realitas sehari-hari mereka. Pada aspek action, siswa didorong menciptakan proyek inovasi lingkungan langsung di sekolah. Sementara pada aspek network, program membuka ruang kolaborasi antara siswa, mahasiswa mentor, pemerintah, dan komunitas untuk memperkuat ekosistem pembelajaran.
Inisiatif ini hadir di tengah tantangan urban dan ancaman bencana yang terus dihadapi Kota Palu — khususnya mengingat sekitar 25 persen penduduk kota berada dalam kelompok usia produktif 15–29 tahun. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sulteng Wilayah I Palu dan Sigi, Hernida Hi Kone, mengatakan bahwa keberhasilan program membutuhkan dukungan semua pihak untuk melahirkan generasi yang tidak hanya peduli kebersihan tetapi juga kesadaran lingkungan yang mendalam.
“Keberhasilan sekolah hijau membutuhkan dukungan semua pihak. Kita tidak hanya menciptakan sekolah yang bersih tapi juga melahirkan generasi yang peduli.”
“Soal lingkungan juga soal perspektif.”
— Hernida Hi Kone & Ibnu Mundzir, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu
Program ini menargetkan partisipasi 3 hingga 10 siswa aktif di setiap sekolah selama enam bulan melalui sejumlah tahapan: sesi kelas dalam ruangan, observasi lapangan, pelatihan ideasi, pendampingan inovasi lingkungan, pembelajaran antar-sekolah, refleksi, dan evaluasi. Materi pembelajaran bersifat multisektoral, mencakup literasi perubahan iklim, kebencanaan, tata kelola kota, jurnalistik lingkungan, kampanye digital, dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat — melibatkan BMKG, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, komunitas lingkungan, dan media.
Setiap sekolah diharapkan menghasilkan minimal satu proyek inovasi lingkungan praktis dan satu publikasi pengetahuan dalam bentuk tulisan, foto, atau video. Program juga diarahkan untuk membangun community hub sebagai pusat komunitas siswa untuk kolaborasi dan inovasi lingkungan. Melalui program ini, ruang kelas tidak lagi sekadar tempat belajar teori, melainkan menjadi ekosistem inovasi kota yang melahirkan generasi sadar iklim, tangguh menghadapi bencana, dan aktif membangun masa depan Kota Palu yang lebih resilien.










