Tim BRIN dan kolaborator teliti istilah-istilah khusus dalam sistem Katuvua (relasi manusia-alam) masyarakat Toro. Penelitian dokumentasikan bagaimana bahasa lokal menyimpan kebijaksanaan pembagian hutan untuk keseimbangan ekologis dan keberlanjutan alam.
SIGI, beritapalu.ID | Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari Pusat Riset Bahasa Sastra dan Komunitas melakukan penelitian mendalam di Desa Toro (Ngata Toro), Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, periode 5-16 Mei 2026.
Penelitian berjudul “Leksikon Ekologis Bahasa Moma dalam Sistem Katuvua di Ngata Toro, Sulawesi Tengah” ini dilaksanakan berdasarkan realitas bahwa masyarakat Toro yang tinggal di sekitar hutan lindung Lore Lindu memiliki sistem adat Katuvua — sebuah sistem relasi manusia dengan alam yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan ekologis masyarakat tersimpan dalam istilah-istilah khusus yang mencerminkan pemahaman mendalam tentang hutan, lahan, dan keseimbangan ekosistem.
Tim peneliti terdiri dari enam peneliti profesional dan dua mahasiswa Universitas Tadulako sebagai pembantu lapangan. Dipimpin oleh Harini, tim ini bekerja mengumpulkan data secara mendalam di tengah masyarakat melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan elisitasi leksikon untuk memverifikasi bentuk, makna, dan konteks pemakaian istilah ekologis. Penelitian melibatkan tokoh masyarakat penting seperti Ibu Rukmini, pendiri Sekolah Adat dan ibu kampung (Tinangata), serta Pak Said Tolao, pendiri Sekolah Alam yang berada di kaki bukit. Kolaborasi dengan masyarakat lokal ini memastikan bahwa data yang dikumpulkan autentik dan relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Toro.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang penyimpanan kearifan ekologis yang diwariskan secara turun temurun.”
“Adanya pembagian zona tersebut memberikan pesan tentang keseimbangan dan keberlanjutan alam dan kehidupan manusia.”
— Hasil Penelitian BRIN
Selama di lapangan, para peneliti mendokumentasikan dan mengklasifikasikan leksikon ekologis dalam sistem Katuvua, mengukur daya hidup leksikon per kata, serta menganalisis faktor sosial-ekologis yang mendorong menguat atau melemahnya penggunaan leksikon tersebut. Kosakata ekologis ini kemudian dinilai melalui tiga indikator: familiaritas, frekuensi penggunaan, dan relevansinya dalam kondisi kehidupan sekarang. Interaksi langsung dengan penduduk dan observasi di hutan kawasan Taman Nasional Lore Lindu menjadi pengalaman berharga, memungkinkan peneliti melihat langsung keanekaragaman hayati dan kearifan lokal yang terefleksi dalam penggunaan bahasa sehari-hari.
Penelitian ini mengidentifikasi sistem pembagian wilayah hutan yang sangat spesifik dan terstruktur dalam bahasa lokal. Contoh leksikon yang ditemukan mencakup: Wana Ngkiki (puncak gunung), Wana (hutan primer), Pangale (hutan semi-primer), Oma (hutan belukar), Pongata (hutan bekas kebun), dan Balingkea (bekas kebun yang kesuburannya telah berkurang). Pembagian zona hutan yang detail ini menunjukkan bahwa masyarakat Toro telah mengembangkan sistem manajemen lahan yang bijaksana, dengan mempertahankan beberapa area sebagai hutan penyangga dan area lain untuk keperluan pertanian, sehingga menciptakan keseimbangan ekologis yang berkelanjutan.
Penelitian BRIN ini diharapkan menghasilkan daftar dan klasifikasi leksikon sistem Katuvua, peta daya hidup per istilah lintas kelompok usia, penjelasan faktor perubahan penggunaan leksikon, serta model pengukuran daya hidup leksikon yang dapat digunakan untuk memahami dinamika relasi sosial-ekologis di Desa Toro. Output penelitian ini tidak hanya bermanfaat untuk pelestarian bahasa lokal tetapi juga sebagai dasar pemahaman tentang kearifan ekologis masyarakat adat yang dapat diterapkan dalam strategi pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam. Penelitian ini menegaskan bahwa masyarakat adat, melalui sistem bahasa dan tradisi mereka, telah mengembangkan pemahaman mendalam tentang hubungan manusia dengan alam yang dibangun atas prinsip penghormatan, keseimbangan, dan tanggung jawab kolektif.








