PALU, beritapalu.ID | Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.
Pameran Kain Kulit Kayu yang digelar di Museum Sulawesi Tengah, Palu, pada 4–8 Mei 2026, membawa pengunjung menelusuri jejak tersebut. Di ruang pamer, lembaran kain kulit kayu dengan ragam motif khas dipajang berdampingan dengan foto-foto dan video proses pembuatannya—dari pemilihan batang, pemukulan, hingga pengeringan.
Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar artefak budaya. Namun bagi masyarakat di wilayah seperti Kulawi, Lembah Bada, dan Lore, kain kulit kayu adalah bagian dari kehidupan.
Tradisi membuat kain dari kulit kayu telah dikenal luas di Sulawesi Tengah, terutama oleh masyarakat Kulawi dan sekitarnya. Bahan bakunya berasal dari beberapa jenis pohon seperti beringin (Ficus), nunu, ivo (murbei kertas), dan malo. Tidak semua kulit kayu bisa digunakan—hanya jenis tertentu yang memiliki serat lentur dan mudah diolah.
Proses pembuatannya tidak sederhana. Kulit kayu yang telah diambil harus dipukul berulang kali menggunakan alat khusus hingga melebar dan menipis. Setelah itu, kain direndam, dijemur, lalu dihias dengan motif tradisional yang sarat makna. Seluruh proses bisa memakan waktu hingga dua minggu.
“Rasa dan karakter itu identitas,” demikian salah satu penjelasan dalam materi pameran. Kalimat ini tidak hanya merujuk pada hasil akhir kain, tetapi juga pada hubungan erat antara manusia, alam, dan tradisi yang membentuknya.
Dalam praktiknya, kain kulit kayu memiliki beragam fungsi. Dahulu, ia digunakan sebagai pakaian sehari-hari, terutama sebelum kain tekstil modern dikenal luas. Kini, penggunaannya lebih banyak ditemukan dalam konteks adat, seperti upacara tradisional, serta sebagai produk budaya bernilai ekonomi.
Di beberapa daerah, kain ini memiliki nama berbeda. Di Kulawi dikenal sebagai “fuya”, sementara dalam bentuk lain disebut “kumpa” untuk pakaian yang belum dijahit. Variasi ini menunjukkan bagaimana tradisi yang sama berkembang dalam konteks sosial yang berbeda.
Namun, di tengah modernisasi, keberlanjutan tradisi ini menghadapi tantangan. Produksi kain kulit kayu masih terbatas, baik dari sisi bahan baku maupun jumlah perajin. Generasi muda pun tidak semuanya tertarik melanjutkan praktik yang memerlukan ketelatenan tinggi ini.
Pameran di Museum Sulawesi Tengah menjadi salah satu upaya untuk menjembatani jarak itu. Tidak hanya menampilkan produk jadi, tetapi juga memperkenalkan proses dan nilai di baliknya—bahwa kain kulit kayu bukan sekadar benda, melainkan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Di salah satu sudut pameran, foto hitam putih menampilkan sekelompok perempuan mengenakan pakaian kulit kayu. Gambar itu menjadi pengingat bahwa apa yang kini dipajang sebagai artefak, pernah menjadi bagian hidup yang nyata.
Di tengah arus industri tekstil modern, kain kulit kayu menawarkan perspektif lain: tentang keberlanjutan, kedekatan dengan alam, dan identitas budaya. Ia mungkin tidak diproduksi massal, tetapi justru di situlah nilainya—pada proses yang lambat, pada tangan-tangan yang mengerjakannya, dan pada cerita yang dibawanya.
Pameran ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang melihat kain. Ia mengajak pengunjung untuk memahami bahwa di setiap serat yang terbentang, ada sejarah panjang yang masih berusaha bertahan.
View this post on Instagram











