PALU, beritapalu.ID | Pameran video art bertajuk “Extraction Echoes” akan digelar di Marlah! Hub, Palu, pada 13-23 September 2025, menghadirkan karya seniman dari Indonesia dan Inggris yang menelusuri sejarah dan kondisi kontemporer praktik ekstraksi.
Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian pameran serupa yang sebelumnya digelar di Tyneside Bar Cafe, Tyneside Cinema, Newcastle pada 26 Agustus – 7 September 2025, dan bersamaan akan berlangsung pula di Kongsi 8 Jakarta pada 13 September sampai 5 Oktober 2025.
Refleksi Hubungan Manusia dan Alam
Pameran ini mengundang pengunjung merenungkan hubungan kompleks seputar ekstraksi dalam konteks sosial, budaya, dan geografis Inggris dan Indonesia.
Dari kelangkaan sumber daya alam dan warisan pertambangan batu bara hingga cerita rakyat, beragam posisi artistik mengajak refleksi hubungan masa lalu, sekarang, dan potensial manusia dengan alam.
“Ketika lanskap terus berubah akibat campur tangan manusia, dan dunia digital kini juga menjadi arena ekstraksi global, keterikatan manusia dengan lingkungannya tak bisa diabaikan,” demikian pernyataan kuratorial pameran.
Karya-karya video ini mempertanyakan kerumitan relasi tersebut sambil membuka kemungkinan lahirnya awal yang baru, termasuk bagaimana membangun kembali kekerabatan yang telah retak.
Pameran menampilkan karya enam seniman: Amanda Loomes, Kristo Robot, Jazmin Morris and Chris Tegho, Sarah Adilah, Sel MacLean, dan Vania Qanita Damayanti.
Tim kurator terdiri dari Polina Chizhova, Rahmadiyah Tria Gayathri, Chiara Giardi, dan Muhammad Rizki.
Kolaborasi Dua Organisasi
Pameran ini merupakan kolaborasi Videocity, jaringan internasional kurator dan seniman yang berfokus pada promosi video art di ruang publik, dengan Forum Sudutpandang (FSDP).
FSDP adalah organisasi nirlaba berbasis di Palu yang dikelola kolektif seniman lintas disiplin. Didirikan pada 2016, FSDP terdiri dari seniman, desainer visual, musisi, jurnalis, penulis, pembuat film, dan anak muda dengan ketertarikan pada kajian budaya.
Sejak bencana alam melanda Palu dan sekitarnya pada 2018, FSDP mengambil peran sebagai relawan kemanusiaan dan berkontribusi dalam pemulihan pasca-bencana melalui program seni yang berfokus pada literasi bencana, perlindungan wilayah, dan memori kolektif. (afd/*)











