BisnisPaluPemkot Palu

Pemkot Palu Bebaskan Biaya Parkir untuk Pengemudi Ojek Online

×

Pemkot Palu Bebaskan Biaya Parkir untuk Pengemudi Ojek Online

Share this article
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid (tengah) bersama sejumlah pengemudi ojek online, Kamis (4/9/2025). (©Prokopim Setda Kota Palu)
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid (tengah) bersama sejumlah pengemudi ojek online, Kamis (4/9/2025). (©Prokopim Setda Kota Palu)

PALU, beritapalu.ID | Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid menetapkan pemberlakuan parkir gratis bagi pengendara ojek online (ojol) di seluruh wilayah Kota Palu.

Kebijakan tersebut diumumkan usai dialog interaktif yang dipimpin Wali Kota bersama perwakilan pengemudi ojol, mahasiswa, dan organisasi kemasyarakatan se-Kota Palu di Ruang Rapat Bantaya, Kantor Wali Kota, Kamis (4/9).

Wali Kota Hadianto menegaskan, kebijakan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah kota kepada para mitra ojol yang dinilai berperan besar dalam mendukung mobilitas masyarakat. “Ojol ini ba parkir gratis, kita akan keluarkan aturan komiu ojek online ba parkir gratis,” ujarnya.

Menurutnya, parkir gratis bagi ojol adalah wujud komitmen Pemkot Palu menghadirkan kebijakan pro-rakyat sekaligus meringankan beban pengeluaran pengemudi yang sehari-hari bekerja di jalanan. Aturan teknis penerapan kebijakan ini akan segera disusun oleh dinas terkait agar berlaku efektif di seluruh titik parkir resmi.

Kebijakan tersebut disambut positif oleh pengemudi ojol yang hadir dalam dialog. Mereka menilai langkah ini sangat membantu, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi biaya operasional.

Pemkot Palu berharap, melalui kebijakan ini hubungan baik antara pemerintah dan masyarakat, khususnya pelaku transportasi online, semakin kuat, sekaligus memperkuat peran ojol sebagai bagian penting dalam mendukung aktivitas warga kota. (afd/*)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 5 September, 2025
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.