PALU, beritapalu.id | Pemerintah Kota Palu menerbitkan surat edaran tentang “Eco Kurban” untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai pada Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026. Kebijakan ini dirancang untuk mewujudkan kurban yang ramah lingkungan sambil secara bersamaan meningkatkan perekonomian masyarakat di tingkat akar rumput.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu Ibnu Mundzir menjelaskan bahwa “Eco Kurban” bukan sekadar inisiatif lingkungan, tetapi strategi holistik yang mengintegrasikan perlindungan ekosistem dengan pemberdayaan ekonomi komunitas lokal.
“Dalam surat edaran tersebut juga diberikan alternatif seperti kembali menggunakan wadah tradisional yang khas baik penggunaan kamboti maupun penggunaan bingga, kebetulan bahannya masih banyak di sini kemudian hal tersebut ternyata bisa menimbulkan multiefek yaitu untuk peningkatan ekonomi keluarga,” ujar Ibnu.
Surat edaran pemerintah kota menekankan empat hal pokok dalam pelaksanaan “Eco Kurban”. Pertama, pembatasan ketat penggunaan plastik sekali pakai yang selama ini dianggap boros dan tidak bermanfaat dalam distribusi daging kurban.
Kedua, pemerintah mendorong panitia kurban membuat lubang penampungan limbah berukuran 1 x 1 meter untuk menampung limbah dari sekitar lima ekor hewan kurban sebelum ditutup dengan kapur dan bahan pendukung lainnya. Langkah ini penting untuk menekan penyebaran bakteri, terutama Escherichia coli (E.coli), pascapenyembelihan hewan.
Ketiga dan keempat, pemerintah mengimbau penggunaan wadah tradisional seperti kamboti dan bingga sebagai pengganti kantong plastik.
Bahan Baku
Keunggulan strategi ini terletak pada ketersediaan bahan baku lokal yang melimpah. Kamboti dibuat dari daun pilar yang diperoleh dari wilayah sekitar Kelurahan Baiya, dengan proses pembuatan manual menggunakan teknik anyaman tradisional.
Dengan demikian, kebijakan “Eco Kurban” tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari sampah plastik, tetapi juga memperkuat ekonomi kerajinan tradisional yang hampir punah, memberikan penghidupan kepada pengrajin lokal seperti Irsyal.
Selain untuk kurban, kamboti juga lazim dimanfaatkan masyarakat Suku Kaili sebagai tempat penyimpanan sayur-sayuran dan biji-bijian hasil pertanian, menunjukkan ketahanan nilai-nilai tradisional dalam ekonomi modern.
Meningkatnya permintaan kamboti menunjukkan respons positif masyarakat Palu terhadap upaya pemerintah mengurangi sampah plastik. Pesanan 400 paket kamboti yang telah masuk baru merupakan puncak gunung es—masih banyak panitia kurban dan keluarga yang belum menyadari alternatif ramah lingkungan ini.
Kesuksesan “Eco Kurban” di Palu bisa menjadi model pengurangan sampah plastik pada momen keagamaan lainnya, sambil terus memberdayakan ekonomi kerajinan tradisional lokal.











