PaluReligi

Kapolda Sulteng dan Ribuan Jamaah Gelar Shalat Id di Mako Polda

×

Kapolda Sulteng dan Ribuan Jamaah Gelar Shalat Id di Mako Polda

Share this article
Kapolda SUlteng Irjen Pol Endi Sutendi (tengah) bersama akapolda Sulteng Brigjen Pol. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf pada shalat Id bersama diMapolda Sulteng, Sabtu (21/3/2026). (©Humas Polda Sulteng)
akapolda Sulteng Brigjen Pol. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf

PALU, beritapalu.ID | Ribuan jamaah yang terdiri dari personel kepolisian, keluarga, dan masyarakat umum memadati Lapangan Apel Mako Polda Sulawesi Tengah, Jalan Soekarno-Hatta, Palu, untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 H, Sabtu (21/3/2026).

Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol Endi Sutendi, hadir langsung di tengah jamaah didampingi keluarga. Wakapolda Sulteng Brigjen Pol. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf dan jajaran Pejabat Utama Polda Sulteng turut berbaur dengan warga dalam suasana hari kemenangan.

Shalat dipimpin oleh Ustadz Maulana Amin Tahir, S.H., M.H. sebagai imam, sementara khutbah Idul Fitri disampaikan oleh Al Habib Dr. Ali Hasan Al Jufri, Lc., M.A., Pimpinan Pondok Pesantren Al Khairaat-Madinatul Ilmi Dolo.

Dalam khutbahnya, Al Habib Ali Hasan mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga lisan dan memelihara sikap istiqamah dalam beribadah maupun berperilaku baik di kehidupan sehari-hari, meski bulan Ramadan telah berlalu.

Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Djoko Wienartono, menyampaikan bahwa momentum Idul Fitri tahun ini diharapkan menjadi titik balik membangun kehidupan yang lebih harmonis dan menjaga kerukunan antarumat beragama di Sulawesi Tengah.

“Keluarga besar Polda Sulteng mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin atas segala kekhilafan,” pungkasnya.

 

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 21 March, 2026
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.