FeatureFotoPaluSeni Budaya

Iwwadh, Ketika Komunitas Arab Palu Merayakan Lebaran dengan Cara Mereka

×

Iwwadh, Ketika Komunitas Arab Palu Merayakan Lebaran dengan Cara Mereka

Share this article
Warga keturunan Arab menari pad atradisi Iwwadh di palu, Minggu (22/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Warga keturunan Arab menari pad atradisi Iwwadh di palu, Minggu (22/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.ID | Pintu-pintu rumah di kawasan permukiman komunitas Arab Kota Palu terbuka lebar sejak pagi di hari kedua Idul Fitri, Minggu (22/3/2026). Rombongan lelaki bergamis datang dan pergi silih berganti, disambut tuan rumah yang sudah menyiapkan hidangan jauh sebelum tamu pertama tiba. Tidak ada undangan tertulis, tidak ada jam kunjungan yang ditetapkan. Begitulah Iwwadh berjalan — mengalir sendiri, seperti yang sudah-sudah.

Iwwadh dalam bahasa Arab berarti pengganti atau balasan. Dalam tradisi yang sudah berjalan cukup lama di kalangan komunitas keturunan Arab Palu ini, maknanya kurang lebih adalah kunjungan balasan — sebuah cara untuk menutup lembaran Ramadan bersama-sama, dari rumah ke rumah, dari satu keluarga ke keluarga berikutnya. Tradisi ini digagas komunitas warga keturunan Arab yang bermukim di Kota Palu sebagai sarana merawat kerukunan di antara sesama. Di setiap rumah yang disinggahi, rombongan disambut dengan hidangan khas — nasi kabsah, roti maryam, kurma, dan kopi Arab yang diseduh kental.

Yang membuat Iwwadh berbeda dari sekadar halal bihalal biasa adalah suasananya yang campur aduk antara khidmat dan riang. Di dalam rumah, para sesepuh dan tokoh komunitas duduk bersila sementara seorang di antaranya berdiri menyampaikan tauziah. Doa mengalir, salam tertukar, dan cerita lama kembali dibongkar. Di rumah terakhir, Nadoly, rumah bernuansa klasik dengan lemari kayu jati berukir dan benda-benda antik yang memenuhi dinding, puluhan orang sesak duduk hingga ke sudut ruangan — dan tidak ada yang tampak tergesa untuk pergi.

Momen yang paling ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak dan kalangan muda, adalah tradisi berbagi rezeki. Para sesepuh dan tokoh komunitas membagikan uang kepada mereka yang lebih muda — bukan sekadar seremonial, tapi bagian dari nilai yang sudah lama dipegang komunitas ini: bahwa mereka yang lebih mampu punya kewajiban berbagi kepada sesama, terlebih di hari raya.

Sementara di dalam rumah berlangsung tauziah dan doa bersama, di luar justru suasananya jauh berbeda. Jalanan di depan rumah-rumah yang dikunjungi berubah menjadi ajang anak muda. Suara petasan bersahut-sahutan. Sekelompok pemuda berdiri di tengah jalan — ada yang merekam, ada yang sekadar tertawa lepas, ada yang bergaya di depan kamera ponsel teman. Bagi generasi muda komunitas Arab Palu, Iwwadh adalah pesta, dan mereka tidak menyia-nyiakannya.

Rangkaian Iwwadh ditutup dengan hiburan khas Timur Tengah. Musik gambus  mengiringi gerakan tarian Arab yang dimainkan dengan ringan dan penuh canda. Dua lelaki tampak saling berbalas gerakan tangan dalam irama yang riang di halaman rumah, sementara yang lain menonton sambil tersenyum. Ada sesuatu yang menyenangkan dari cara komunitas ini merayakan hari raya — tidak ada sekat antara yang sakral dan yang gembira, keduanya berjalan beriringan.

Bagi komunitas keturunan Arab di Palu, Iwwadh bukan sekadar tradisi tahunan yang dijalankan karena kebiasaan. Ia adalah cara mereka menjaga ikatan yang sudah terjalin lintas generasi, di kota yang pernah porak-poranda dihantam gempa dan tsunami 2018 silam. Justru di tengah kota yang sedang terus bangkit itulah, tradisi seperti Iwwadh terasa punya makna lebih — bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by beritapalu.ID (@beritapalu_id)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 22 March, 2026
Ketua Tim PKK Diah Pustpita saat tiba di SMP Al-Azhar Palu, Rabu (6/5/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Imron)
Komunitas

Ketua TP-PKK Kota Palu memberikan edukasi di SMP Al-Azhar yang baru saja dinobatkan sebagai Sekolah Siaga Kependudukan, menghubungkan kedewasaan usia perkawinan dengan pencegahan stunting pada generasi mendatang.

Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.