Palu

Warung Sari Laut di Jalan Nokilalaki Palu Ludes Terbakar

×

Warung Sari Laut di Jalan Nokilalaki Palu Ludes Terbakar

Share this article
Api membumbung tinggi saat terjadi kebakaran sebuah warung sari laut di Jalan Nokilalaki Palu, Jumat (19/12/2025). (©Humas Polresta Palu)
Api membumbung tinggi saat terjadi kebakaran sebuah warung sari laut di Jalan Nokilalaki Palu, Jumat (19/12/2025). (©Humas Polresta Palu)

PALU, beritapalu.ID | Satu unit rumah yang digunakan sebagai Warung Sari Laut “Estu” di Jalan Nokilalaki, Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, hangus terbakar pada Jumat malam, 19 Desember 2025, sekitar pukul 19.30 WITA.

Kebakaran itu tidak menimbulkan korban jiwa, namun mengakibatkan kerugian materiil yang hingga kini masih dalam pendataan.

Rumah milik Iwan Teddy (50) yang disewa oleh Bashori (50) tersebut pertama kali terbakar di bagian belakang. Berdasarkan keterangan penyewa, api disertai asap tebal yang cepat membesar dan sulit dikendalikan meski telah dibantu warga sekitar.

Kapolsek Palu Selatan AKP Muhammad Kasim mengatakan, pihak kepolisian segera bergerak ke lokasi untuk mengamankan area dan membantu proses pemadaman.

“Polri mengapresiasi respons cepat petugas pemadam kebakaran, sehingga api tidak merembet ke bangunan lain dan tidak menimbulkan korban jiwa,” ujarnya.

Tujuh unit pemadam kebakaran Kota Palu yang dibantu water cannon Brimobda Sulteng dan Ditsamapta Polda Sulteng tiba di lokasi sekitar pukul 19.45 WITA. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 20.50 WITA.

Kapolsek Palu Selatan menyebutkan dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting listrik, namun penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan. Kebakaran juga berdampak pada padamnya aliran listrik di sebagian Jalan Kartini dan sepanjang Jalan Nokilalaki.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap instalasi listrik, terutama pada bangunan yang difungsikan sebagai tempat usaha, guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.

 

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 20 December, 2025
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.