Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu mendistribusikan daging kurban kepada ratusan tenaga kebersihan dan warga sekitarnya menggunakan Kamboti, keranjang kecil yang terbuat dari saun silar. Praktik ini merupakan implementasi nyata dari Eco Kurban, program Pemerintah Kota Palu untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menjaga kelestarian lingkungan.
PALU, beritapalu.id | Distribusi daging kurban Idul Adha dilaksanakan Kamis (28/5/ 2026) dengan menghadirkan inovasi ramah lingkungan. Kepala DLH Kota Palu Mohammad Arif Lamakarate mengungkapkan bahwa tahun ini jumlah hewan kurban DLH Kota Palu mencapai sembilan ekor sapi, mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya lima ekor.
“Sebagian dari hewan kurban tersebut adalah hasil urunan dari para pegawai DLH Kota Palu,” ujar Arif, yang saat itu didampingi Sekretaris DLH Kota Palu Ibnu Mundzir dan Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kota Palu, Hisyam Baba.

Penggunaan Kamboti dalam distribusi kurban telah diterapkan DLH Kota Palu sejak tiga tahun lalu dan menjadi pioner dalam implementasi di daerah ini. Namun, tahun ini implementasinya disertai dengan Surat Edaran Wali Kota Palu tentang Eco Kurban, menunjukkan dukungan pemerintah kota terhadap upaya pengurangan plastik.
Kepala DLH menjelaskan bahwa penggunaan Kamboti merupakan bagian dari komitmen untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai. Melalui Surat Edaran, semua pihak yang akan mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan plastik, melainkan menggunakan Kamboti sebagai wadah distribusi.
“Ini bisa menjadi trigger bagi semua untuk menjaga Kota Palu dari plastik sekali pakai,” tegas Arif.
Kepala DLH mengakui bahwa tantangan utama dalam implementasi Eco Kurban adalah harga. Kamboti memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan kantong plastik sekali pakai. Namun, dari perspektif ekonomi jangka panjang, Kamboti memiliki nilai keuntungan lebih karena dapat digunakan berulang kali.
“Memang kalau dibeli per hari harga Kamboti akan lebih mahal, tetapi jika dimanfaatkan untuk penggunaan berulang, nilai ekonomisnya sebenarnya lebih menguntungkan dibanding kantong kresek,” jelasnya.

Selain manfaat lingkungan, program Eco Kurban juga mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. DLH Kota Palu telah menghidupkan kembali UMKM, khususnya dari Kelurahan Taweni, yang memiliki keahlian dalam membuat Kamboti. Dengan meningkatnya permintaan Kamboti, UMKM lokal mendapat kesempatan untuk berkembang sekaligus berkontribusi pada penyelamatan lingkungan.
“Dengan mendukung UMKM lokal pembuat Kamboti, kita juga menjaga Kota Palu dari sampah plastik sekali pakai,” ungkap Arif.
Program Eco Kurban mencerminkan bagaimana ibadah dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Inisiatif DLH Kota Palu ini diharapkan dapat menjadi teladan bagi institusi lain dan masyarakat dalam menjalankan Idul Adha yang tidak hanya bermakna secara spiritual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Dengan meningkatnya dukungan Pemerintah Kota Palu melalui Surat Edaran tentang Eco Kurban, komitmen pengurangan plastik sekali pakai di Kota Palu semakin menguat. Langkah ini menunjukkan bahwa keberlanjutan lingkungan dapat diintegrasikan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pelaksanaan ibadah keagamaan.











