Puluhan pelajar kelas 4-5 SD Inpres 2 Tada mengikuti pelatihan mangrove dan pemilahan sampah yang diselenggarakan kelompok pemuda peduli mangrove dan bank sampah Nagali Oncone Raya. Program 2 hari ini melatih siswa menanam benih, praktik di lapangan, sekaligus memahami pengelolaan sampah dengan nilai ekonomis. Aksi lanjutan mencakup pembersihan pantai dan penanaman 2.560 pohon mangrove.
PARIGI MOUTONG, beritapalu.id | Puluhan pelajar Sekolah Dasar Inpres Tada, Kecamatan Tinombo Selatan, diperkenalkan pentingnya mangrove dan pemilahan sampah, Sabtu (13/6/2026). Program ini difasilitasi Kelompok Pemuda Peduli Mangrove dan Kelompok Bank Sampah Nagali Desa Oncone Raya.
Sebanyak 50 peserta dari kelas 4 dan 5 akan mengikuti kegiatan selama dua hari dengan materi dasar tentang jenis-jenis mangrove, praktik menanam benih di polybag, dan penanaman langsung di area rehabilitasi. Pembelajaran tentang sampah juga diterapkan secara praktis—siswa belajar memilah dan memahami nilai ekonomi dari pengelolaan sampah.
Muhajir, ketua kelompok bank sampah Nagali, menjelaskan tujuan program. “Pengenalan mangrove dan pemilahan sampah merupakan program kerja kelompok kami dalam rangka menyebarluaskan dan membangun kesadaran serta kepedulian anak-anak pelajar tentang pentingnya ekosistem mangrove dan pengolahan sampah melalui pemilahan,” ujarnya.
Virawati, guru SD Inpres 2 Tada, melihat inisiatif ini sebagai kesempatan membentuk karakter anak. “Anak-anak sebagai generasi penerus mesti memiliki kepedulian terhadap lingkungan, utamanya pengelolaan sampah dan pemulihan mangrove. Kegiatan ini sangat membantu agar anak-anak mulai mengelola sampah sehingga bisa bernilai ekonomis dan memiliki kepedulian mangrove yang berfungsi menjaga lingkungan pesisir,” katanya.
Aksi Nyata: Tanam 2.560 Pohon
Program ini bukan hanya materi kelas. Sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Sedunia, para pelajar akan melakukan aksi nyata: pembersihan sampah di pesisir pantai dan penanaman 2.560 pohon mangrove di kawasan rehabilitasi Desa Oncone Raya.
Rizal, direktur program Perkumpulan Relawan untuk Orang dan Alam (ROA), menekankan pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini. “Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan perlu diperkenalkan sejak usia dini melalui pemahaman pemilahan sampah dan pentingnya ekosistem mangrove.”
“Menjaga lingkungan bukanlah tugas yang dapat ditunda hingga dewasa. Melalui pemahaman tentang pemilahan sampah dan pelestarian mangrove sejak bangku sekolah dasar, anak-anak dibekali kesadaran bahwa masa depan bumi bergantung pada tindakan nyata yang dimulai hari ini,” tegas Rizal.
Inisiatif sejenis di tingkat sekolah dasar mencerminkan pergeseran strategi pendidikan lingkungan: bukan lagi pelajaran abstrak di kelas, tetapi pelatihan praktis yang langsung terlihat dampaknya. Dengan 2.560 pohon mangrove yang akan ditanam, siswa SD Tada akan menyaksikan sendiri bagaimana tindakan mereka mengubah lanskap pesisir. Pengalaman ini diharapkan membentuk kesadaran lingkungan yang bertahan hingga mereka dewasa. ■











