DPD PAPPRI Sulawesi Tengah menggelar Equistar 2026 dengan model berbeda: 12 finalis tidak hanya berkompetisi tapi mendapat kontrak kerja 1 tahun, honor Rp1 juta/bulan, dan jaminan penampilan. Program ini lahir dari masalah nyata—talenta Palu sering menang lomba tapi kehilangan momentum karena tidak ada ruang pengembangan karir berkelanjutan.
PALU, beritapalu.id | Grand Final Equistar Sulawesi Tengah 2026 berlangsung 13 Juni 2026 dengan 12 finalis dari Palu, Poso, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Berbeda dari kompetisi menyanyi biasa, Equistar menawarkan kontrak kerja 1 tahun untuk para pemenang dan finalis terpilih—respons terhadap masalah nyata di industri musik lokal: talenta yang menang kompetisi kerap kehilangan momentum tanpa ada dukungan karir berkelanjutan.
Ketua DPD PAPPRI Sulteng Umariyadi Tangkilisan menjelaskan latar belakang program. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak penyanyi dari Kota Palu menjuarai berbagai kompetisi nasional. Namun setelah kemenangan, mereka tidak memiliki ruang pengembangan berkelanjutan. Hal ini membuat sulit bagi talenta lokal untuk menembus industri musik nasional secara serius.
“Equistar tidak hanya cari juara, tapi bangun ekosistem industri musik yang serius,” ujar Tangkilisan, Kamis (11/6/2026).
Para finalis yang lolos tidak langsung mendapat hadiah uang tunai. Sebaliknya, mereka menjalankan kontrak kerja satu tahun dengan manajemen Equistar. Program ini jelas: finalis mendapat honorium minimal Rp1 juta per bulan, ditambah jaminan penampilan di berbagai acara.
Jadwal penampilan terstruktur. Empat bulan pertama, finalis minimal tampil satu kali sebulan dengan honor Rp500 ribu per penampilan. Mulai bulan kelima hingga kedua belas, mereka harus tampil minimal dua kali per bulan. Setiap pendapatan tambahan dari kegiatan musik akan diterapkan sistem bagi hasil.
Manajemen bertanggung jawab melatih, menjadwalkan latihan, membangun komunitas, mengelola branding, dan membuka peluang kerja. Peserta wajib mengikuti latihan minimal dua kali seminggu. Materi meliputi vokal, teknik bernyanyi, pembentukan karakter, etika profesi, hukum hak cipta, dan motivasi kerja profesional.
Dari 50 Pendaftar ke 12 Finalis
Program Manager Yudhi Nugraha menceritakan proses seleksi. Sekitar 50 peserta mengirim berkas dan video penampilan sejak Mei 2026. Setelah kurasi, 25 orang berhak ikut audisi daring. Hasilnya: 12 finalis dari berbagai kabupaten.
Pemenang dan kontrak tidak ditentukan hanya dari performa Grand Final. Penilaian akhir mempertimbangkan hasil pembinaan melalui Equistar Academy, program pelatihan daring seminggu yang fokus pada personal branding, pengelolaan vokal, motivasi, dan psikologi mental.
Salah satu juri, Michael Runtuwene, tegas: penilaian bukan hanya soal suara bagus. Juri juga nilai komunikasi, sikap, teknik vokal, dan kemampuan menerima arahan. Banyak peserta memiliki vokal bagus tapi sulit dibimbing. Equistar mencari talenta yang paham tahapan pengembangan karier profesional.
Tangkilisan menambahkan, mentalitas profesional berbeda jauh dengan menyanyi sekadar hobi. “Menjadi idola bukan hanya soal suara bagus, tapi kesiapan menjalani kontrak, memenuhi jadwal, menjaga komitmen,” katanya.
Tangkilisan ingin membangun industri musik dari tingkat lokal secara bertahap. Ketika lahir seorang penyanyi, maka lahir pula kebutuhan pencipta lagu, arranger, manajer, penyelenggara pertunjukan, sponsor, dan pelaku usaha merchandise. “Yang ingin kami bangun bukan hanya penyanyinya, tetapi seluruh ekosistem industrinya,” ungkapnya.
Salah satu finalis, Nayla dari Parigi Moutong, mengatakan ingin menjadi penyanyi profesional dengan teknik dan sikap yang baik. Keinginannya sederhana: menjadi idola. Equistar menawarkan jalan konkret untuk itu—bukan hanya mimpi, tapi kontrak kerja dan jaminan kesempatan berkarir. ■








