Gerabah bukan sekadar benda. Ia adalah arsip hidup dari peradaban manusia yang telah berusia ribuan tahun. Jauh sebelum logam dikenal, gerabah telah hadir dalam kehidupan sehari-hari manusia—sebagai alat memasak, wadah penyimpanan, bahkan peti kubur untuk nenek moyang. Di Sulawesi Tengah, terutama di kawasan Megalitik Lore-Lindu, gerabah masih berbicara tentang sejarah panjang masyarakat dan pencapaian peradaban mereka yang luar biasa.
Namun, suatu yang perlu kita sadari dengan jernih: warisan itu sedang memudar. Teknik pembuatan gerabah tradisional yang dahulu hidup dan berkembang melalui transmisi pengetahuan turun-temurun, kini mulai ditinggalkan. Satu per satu pengrajin tradisional menghilang, dan tidak ada generasi muda yang siap menggantikan posisi mereka. Kami hampir saja kehilangan pengetahuan yang telah membentuk identitas budaya masyarakat Lore-Lindu.
Kisah Ina Dery—atau Ester Toganti—menjadi cerminan dari krisis budaya ini. Perempuan berusia 73 tahun dari Desa Bakekau, Lembah Bada, adalah salah satu dari sedikit pengrajin yang masih memegang teguh teknik pembuatan gerabah tradisional Tatap Pelandas. Sejak muda, ia telah hidup bersama gerabah: membuat, menjual, dan mempertahankan pengetahuan yang menjadi penopang ekonomi keluarganya. “Biasa ada yang pesan baru saya bikinkan… kadang belanga, wajan, tempat masak obat, dan masih banyak lagi,” ujarnya dengan sederhana.
Namun, takdir bukanlah hal yang mudah diprediksi. Stroke ringan yang menimpa Ina Dery beberapa tahun terakhir telah membatasinya dari melakukan aktivitas membuat gerabah seperti sebelumnya. Pengetahuan yang telah ia jaga selama puluhan tahun kini berada di ujung sebuah pendulum waktu yang bergerak semakin cepat. Tanpa intervensi serius, warisan budaya ini akan hilang selamanya dalam beberapa tahun ke depan.
Kita Semua Memiliki Tanggung Jawab
Pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah: apakah kita benar-benar menganggap warisan budaya seperti gerabah tradisional penting? Atau apakah kita hanya menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu yang dapat dengan mudah dilupakan?
Jika warisan budaya hilang, maka kita kehilangan lebih dari sekadar teknik membuat benda. Kita kehilangan identitas, memori kolektif, dan koneksi dengan leluhur kita. Kita juga kehilangan potensi ekonomi kreatif yang masih sangat relevan di era modern. Gerabah tradisional memiliki nilai estetika dan keunikan yang tidak dapat digantikan oleh produk masal.
Ina Dery masih memiliki harapan. Dengan senyum yang tenang, ia berkata, “Nanti kalau saya sudah sehat lagi, saya masih mau membuat gerabah lagi…” Kalimat sederhana itu mengandung perjuangan dan determinasi yang luar biasa. Namun, seorang perempuan berusia 73 tahun tidak dapat menjadi satu-satunya pelindung warisan budaya yang begitu berharga.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Pertama, pemerintah daerah dan lembaga budaya harus mengambil langkah konkret untuk mendokumentasikan dan melestarikan teknik pembuatan gerabah tradisional ini. Ini bukan hanya tentang nostalgia, tetapi tentang menjaga aset budaya yang bernilai tinggi.
Kedua, komunitas muda perlu dilibatkan. Program mentoring antara Ina Dery dan generasi muda harus diinisiasi untuk memastikan pengetahuan ini tidak hilang. Kami harus membuat gerabah tradisional terlihat menarik dan relevan bagi anak muda, bukan sekadar warisan kuno.
Ketiga, pasar untuk produk gerabah tradisional perlu dikembangkan. Dengan pendekatan yang tepat, gerabah tradisional dapat menjadi komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan memberikan kesejahteraan bagi pengrajin.
Waktu Tidak Bisa Ditahankan, Tetapi Kita Bisa
Gerabah telah bertahan selama ribuan tahun, melewati berbagai zaman dan perubahan. Namun, ketahanan itu hanya mungkin jika ada tangan manusia yang terus membuatnya, mata yang terus melihat nilai-nilainya, dan hati yang terus menjaganya.
Waktu memang terus berjalan, dan Ina Dery semakin tua. Tetapi kita—masyarakat Sulawesi Tengah, pemerintah, akademisi, dan setiap orang yang peduli—masih memiliki kesempatan untuk memastikan bahwa harapan sederhana Ina Dery terwujud, dan warisan budaya yang telah hidup ribuan tahun tidak hilang dalam perjalanan sejarah.
Pertanyaannya kini adalah: apakah kita akan bertindak sekarang, atau akan menunggu sampai terlambat?
Imran adalah pengamat budaya dan warisan lokal di Sulawesi Tengah






