BERITA tentang gempa 6,7 SR yang mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, semalam, mengingatkan saya pada perjalanan hidup 30 tahun lalu.
Pagi tadi beberapa kawan lama saya di sana mengunggah kabar baik: selamat dari bencana. Fahmi, Roland Maringka, Basri Marzuki, Wellem, Ningsih Kobisonta, Jeis Montesory.
Tentu masih lebih banyak lagi teman-teman saya yang belum termonitor: Udin Salim, Rolex Malaha, Kamil Badrun, Sudirman, Triputra Toana, Rizal Tjahjadi, A Piu, Amin Abdullah, Arie Wowor, dan lain-lain. Semoga sehat semua selamat.
Gempa bagi masyarakat Sulawesi Tengah sebenarnya fenomena alam yang cukup akrab. Berbagai wilayah di provinsi ini berada di kawasan sesar aktif yang menjadikan aktivitas kegempaan relatif tinggi.
Tahun 1995, saya meliput langsung peristiwa tsunami yang menghantam kawasan Tonggolobibi dan menewaskan puluhan jiwa.
Ternyata kawasan tersebut, pada tiga dekade sebelumnya, juga pernah mengalami peristiwa serupa. Bahkan saat saya berada di sana, bekas dampak gempa dan tsunami tahun 1960-an masih bisa disaksikan. Ada daratan yang turun dan kemudian tergenang laut hingga kedalaman beberapa meter.
Namun gempa kali ini berpusat di kawasan Sigi, kabupaten yang ibu kotanya hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Palu. Seperti beberapa bencana besar sebelumnya, Kabupaten Sigi kembali menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.
Saat saya tinggal di Palu pada periode 1993–1999, Kabupaten Sigi belum terbentuk. Bahkan belum ada wacana pemekaran wilayah tersebut menjadi kabupaten tersendiri. Wacana pemekaran yang ramai diperbincangkan saat itu justru datang dari daerah lain.
Dulu, sebelum menjadi kabupaten, ada dua nama yang sangat dikenal masyarakat: Sigi dan Biromaru. Keduanya merupakan kawasan pertumbuhan ekonomi penting karena menjadi sentra pertanian dan pemasok sayur-mayur bagi warga Kota Palu.
Dibandingkan Sigi, saya lebih sering berkunjung ke Biromaru. Terutama pada malam-malam tertentu, sesuai jadwal buka sebuah warung makan ayam khas Biromaru yang legendaris dan hanya beroperasi dua kali seminggu.
Ayam Biromaru memang unik.
Pembeli harus sabar menunggu hingga dua jam. Sebab ayam yang dipesan masih dalam kondisi hidup. Setelah dipilih, ayam baru disembelih dan dimasak sesuai resep yang diinginkan pelanggan.
Rasanya, ayam Biromaru merupakan salah satu produk kuliner paling unik yang pernah saya temukan.
Namun keunikan itu kini telah lenyap.
Tiga tahun lalu saya sempat kembali berkunjung ke sana. Tidak ada lagi proses memilih ayam hidup. Tidak ada lagi ritual menunggu dua jam sambil bercengkerama dengan teman-teman.
Pemilik warung kini sudah menyiapkan daging ayam yang dimarinasi dan disimpan dalam kondisi beku. Begitu pelanggan datang, pesanan langsung diproses. Dalam waktu kurang dari 30 menit makanan sudah tersaji di meja.
Tahun 1993, atau sekitar tiga dekade lalu, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kota Palu. Pak Dahlan Iskan menugaskan saya memimpin sebuah koran lokal yang nyaris kolaps: Mercusuar.
Koran Mercusuar milik Haji Rusdy Toana, salah satu tokoh Muhammadiyah terkemuka di Sulawesi Tengah. Lahir pada masa-masa sulit tahun 1960-an, koran itu bertahan hidup dalam kondisi pasang surut.
Dalam situasi penuh keprihatinan itu, saya menemukan satu hiburan sederhana: menikmati ayam Biromaru yang lezatnya “seng ada lawan”.











