Pesta Wirausaha Palu 2026 menghadirkan 400 peserta UMKM dengan tema “Local to the Next Level”. Wakil Wali Kota Imelda menekankan UMKM harus transformasi dari model konvensional ke modern untuk naik kelas. Hambatan praktis utama: legalitas, halal label, dan packaging masih tertinggal dibanding pesaing regional.
PALU, beritapalu.id | Pesta Wirausaha Palu (PWP) 2026 berlangsung Sabtu (13/6/2026) di Tanaris Coffee dengan tema “Local to the Next Level”. Sekitar 400 pelaku UMKM, komunitas bisnis, dan generasi muda yang tertarik wirausaha hadir di acara yang diselenggarakan Komunitas Tangan di Atas (TDA) Palu.
Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin menyampaikan pesan, UMKM adalah penggerak roda ekonomi dan harus mulai scale up. Pengalaman dirinya sebagai wirausahawan mendorong pemahaman mendalam tentang tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
“Saya berangkat dari seorang wirausahawan juga. Pengusaha UMKM adalah penggerak roda ekonomi. Saat kita mengalami bencana, para pengusaha UMKM tetap eksis. Ketika pandemi Covid-19 melanda, para pelaku UMKM juga mampu bertahan dan terus bergerak,” kata Imelda.
Imelda menekankan transformasi dari pola konvensional menuju usaha modern menjadi keharusan. “Dari yang konvensional, kita harus scale up, kita harus naik level. UMKM yang naik kelas manfaatnya jauh lebih luas, tentu pendapatannya juga akan meningkat,” ujarnya.
Imelda mengidentifikasi tiga hambatan praktis yang menghalangi UMKM Palu berkembang. Pertama, legalitas usaha. Banyak UMKM masih beroperasi tanpa izin resmi, mengurangi kredibilitas di mata konsumen dan pasar formal.
Kedua, label halal. Setiap produk harus memiliki sertifikasi halal untuk membangun kepercayaan konsumen Muslim—segmen pasar terbesar.
Ketiga, dan paling sering diabaikan: packaging. “Kadang orang melihat bukan hanya isi produknya, tetapi juga kemasannya. Kita masih kalah dalam hal packaging,” ujar Imelda. Kemasan profesional menjadi kompetitor utama saat produk lokal ingin tembus pasar nasional dan regional.
Kombinasi ketiga hambatan ini menjelaskan mengapa produk Palu belum masif menembus pasar di luar lokal meski kualitas baik.
Imelda berharap Komunitas TDA Palu terus memberikan pendampingan teknis—dari pengemasan hingga pengembangan kapasitas bisnis. Namun, langkah ini saja tidak cukup tanpa akses pembiayaan yang lebih luas.
“Saya berharap pada kegiatan berikutnya pihak perbankan juga dilibatkan, sehingga para pelaku UMKM mendapatkan informasi dan akses yang lebih baik untuk mengembangkan usahanya,” kata Imelda. Tanpa akses kredit mudah, UMKM akan terjebak pada skala usaha kecil meski sudah memiliki pengetahuan dan produk berkualitas.
Imelda menetapkan target ambisius, produk UMKM Palu harus tembus pasar nasional dan internasional, bukan hanya lokal. “Bagaimana produk kita bisa keluar dari Kota Palu dan dinikmati oleh masyarakat di berbagai daerah. Itulah tantangan sekaligus peluang yang harus kita raih bersama,” katanya.
Kepada peserta PWP Imelda berpesan, proses transformasi bukan instan. “Tidak ada usaha yang instan. Semua butuh proses, jatuh bangun, bahkan mengalami kerugian. Memang menuju next level itu tidak mudah, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita terus berinovasi dan berpikir besar,” pesan Imelda. ■











