PALU, beritapalu.ID | Suasana Pasar Manonda di hari keempat pascalebaran sudah ramai seperti biasa. Meja-meja lapak basah berjejer, dipenuhi ikan segar yang mengilap terkena cahaya lampu. Di antara kerumunan pembeli, Eni berjalan pelan, matanya menyapu deretan ikan laut yang tersusun rapi. Setelah dua hari Lebaran, ia mulai merasa jenuh dengan menu daging yang terus tersaji di rumah. Hari itu, ia berniat membawa pulang sesuatu yang berbeda: ikan laut segar.
Langkahnya berhenti di satu lapak yang menjual cakalang. Ikan-ikan itu tampak segar, tubuhnya masih kaku, sisiknya berkilau. Eni bertanya harga, seperti kebiasaannya sebelum memilih. Namun jawaban pedagang membuatnya tertegun. “Tujuh puluh ribu, Bu, per kilo,” kata si penjual singkat.
Eni sempat mengira ia salah dengar. Beberapa hari sebelum Lebaran, ia masih membeli cakalang dengan harga paling tinggi Rp35.000 per kilogram. Kini, angkanya melonjak dua kali lipat. Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri, lalu melirik pilihan lain di meja yang sama.
Harapannya beralih ke ikan katombo yang biasanya lebih terjangkau. Namun harapan itu tak bertahan lama. Harga yang disebutkan pedagang tidak jauh berbeda—Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram. Padahal, sebelum Lebaran, ikan jenis itu biasa dijual di kisaran Rp30.000. Kenaikannya terasa begitu drastis, seperti tidak memberi ruang bagi pembeli untuk bernegosiasi.
Di sepanjang lorong pasar, cerita serupa terdengar berulang. Hampir semua jenis ikan laut mengalami lonjakan harga, bahkan lebih dari 100 persen. Para pembeli tampak saling bertukar pandang, sebagian mengernyitkan dahi, sebagian lagi hanya bisa tersenyum pahit sambil mengurangi jumlah belanjaan.
Di balik meja, para pedagang pun tidak sepenuhnya nyaman dengan situasi ini. Salah seorang penjual mengaku kenaikan harga bukan semata-mata keinginan mereka. Pasokan ikan yang masuk ke pasar menurun drastis. Banyak nelayan dari daerah penyangga memilih tidak melaut selama momen Lebaran, membuat suplai ikan segar tersendat.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan sederhana: permintaan tetap tinggi, sementara barang yang tersedia jauh berkurang. Akibatnya, harga melambung tanpa bisa dicegah. Para pedagang hanya mengikuti harga dari pemasok, sementara pembeli harus menyesuaikan dengan kenyataan yang ada.
Bagi Eni, pilihan menjadi terbatas. Ia sempat berdiri cukup lama di depan lapak, menimbang antara kebutuhan dan harga yang tidak bersahabat. Pada akhirnya, ia tetap membeli, meski tidak sebanyak yang direncanakan. Baginya, menghadirkan variasi menu di meja makan tetap penting, meski harus dibayar lebih mahal.
Di sudut lain pasar, aktivitas jual beli terus berlangsung. Tawar-menawar tetap terdengar, meski nadanya berbeda—lebih hati-hati, lebih penuh pertimbangan. Lonjakan harga ikan laut pasca-Lebaran bukan sekadar angka di papan timbangan, tetapi cerita kecil tentang bagaimana tradisi, kebiasaan, dan siklus hidup nelayan ikut menentukan isi dapur banyak orang.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya