SIGI, beritapalu.ID | Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat beragama untuk memperkuat toleransi aktif sebagai fondasi menjaga persatuan dan harmoni bangsa di tengah tantangan yang tidak semakin ringan.
“Toleransi bukan sekadar sikap pasif menerima perbedaan, tetapi komitmen aktif untuk saling menghormati, melindungi, dan bekerja sama,” tegas Nasaruddin dalam sambutan penutupan Paskah Nasional V Tahun 2026 di Lapangan Asrama Satuan Brimob Batalyon A Pelopor, Desa Loru, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Minggu malam (26/04/2026).
Nasaruddin mengatakan, tantangan ke depan menuntut seluruh elemen masyarakat untuk adaptif, inovatif, dan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur bangsa.
“Kita harus menyadari bahwa perubahan zaman menuntut kita untuk tetap adaptif, inovatif, namun tidak meninggalkan nilai-nilai dasar kebangsaan,” ujarnya.
Menag menegaskan, umat beragama memiliki peran penting sebagai penjaga moralitas publik sekaligus pilar dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.
Nasaruddin mengingatkan bahwa toleransi tidak berarti menyamakan semua perbedaan, melainkan menghargai keberagaman sebagai kekuatan.
“Biarkan yang berbeda itu tetap berbeda, dan yang sama tetap sama. Kita hidup dalam perbedaan yang indah,” katanya.
Ia menekankan, Indonesia merupakan rumah besar yang dibangun di atas nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sehingga tidak boleh ada ruang bagi intoleransi, diskriminasi, maupun perpecahan.

“Kerukunan adalah modal sosial kita, toleransi adalah kekuatan kita, dan persatuan adalah kunci masa depan bangsa,” ujarnya.
Nasaruddin menyampaikan, pembangunan bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Setiap individu memiliki peran, setiap komunitas memiliki kontribusi, dan setiap daerah memiliki potensi untuk membangun bangsa,” tambahnya.
Ia menyoroti potensi besar Sulawesi Tengah sebagai daerah kaya sumber daya alam dan budaya yang dapat menjadi motor penggerak pembangunan nasional jika dikelola dengan baik.
Namun, Nasaruddin mengingatkan bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari pemerataan kesejahteraan, tegaknya keadilan, serta terjaganya nilai-nilai kemanusiaan.
“Jadikan momentum ini sebagai titik awal untuk memperkuat komitmen kita dalam membangun kehidupan yang lebih baik, serta menjaga persatuan dan kerukunan bangsa,” pungkasnya.











