DonggalaInspirasiSulteng

Mahasiswa KKN UGM Tanam 400 Bambu untuk Mitigasi Banjir Berbasis Ekologi di Desa Limboro

×

Mahasiswa KKN UGM Tanam 400 Bambu untuk Mitigasi Banjir Berbasis Ekologi di Desa Limboro

Share this article

DONGGALA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Bulava Donggala 2026 menginisiasi program DOMO MASAVO (Air Tidak Lagi Meluap) melalui penanaman bambu sebagai upaya mitigasi banjir berbasis ekologi di Desa Limboro, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (26/7).

Kegiatan tersebut dilaksanakan di sepanjang aliran sungai lama yang telah dinormalisasi dengan melibatkan masyarakat terdampak banjir, Kelompok Peduli Alam (KPA) Sampelu, KPA Sinue, para kepala dusun, Pemerintah Desa Limboro, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala, Rustam Efendi.

Program ini hadir sebagai respons terhadap kerentanan Desa Limboro yang berulang kali dilanda banjir. Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 15 Oktober 2020, ketika hujan berintensitas tinggi menyebabkan Sungai Powelua meluap dan merendam sekitar 995 rumah di lima desa di Kecamatan Banawa Tengah, yakni Desa Limboro, Lumbudolo, Kola-Kola, Mekar Baru, dan Towale. Ketinggian air saat itu mencapai sekitar 50 hingga 150 sentimeter dan merusak jembatan penghubung antardesa.

Ancaman banjir masih terus menghantui masyarakat hingga beberapa tahun terakhir. Berdasarkan pemetaan risiko bencana Pemerintah Desa Limboro, wilayah ini memiliki tingkat kerawanan banjir yang tinggi. Warga menyebut hujan dengan durasi lebih dari dua jam kerap memicu luapan sungai yang menggenangi permukiman, terutama di kawasan dataran rendah dan sepanjang aliran Sungai Mongo. Pada Juli 2025, banjir kembali merendam sejumlah rumah warga akibat meluapnya sungai.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM menggagas program DOMO MASAVO, yang dalam bahasa Kaili berarti “air tidak lagi meluap”. Nama tersebut menjadi simbol harapan masyarakat agar banjir yang selama ini terjadi dapat dikurangi melalui pendekatan berbasis alam.

Sebanyak 400 bibit bambu disiapkan untuk mendukung program tersebut. Bibit yang berasal dari Bambu Nusa Verde, perusahaan pembibitan bambu kultur jaringan asal Sleman, terdiri atas empat jenis, yakni bambu Beema, bambu Petung, Dendrocalamus sp., dan bambu Ampel Kuning.

Keempat jenis bambu tersebut dipilih karena memiliki sistem perakaran yang rapat dan kuat sehingga mampu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, mengurangi limpasan air permukaan, menekan erosi, serta memperkuat kestabilan tanah di sepanjang bantaran sungai. Dengan demikian, vegetasi bambu diharapkan mampu menjadi solusi alami untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga kualitas lingkungan.

Pada pelaksanaan kegiatan, sekitar 150 bibit bambu ditanam secara simbolis bersama masyarakat di sepanjang aliran sungai lama Desa Limboro. Sementara itu, sisa bibit akan dikelola Pemerintah Desa Limboro untuk ditanam secara bertahap sebagai bentuk keberlanjutan program.

Penanggung jawab Program DOMO MASAVO, I Komang Agus Juliantara, mengatakan program ini tidak hanya bertujuan menghijaukan bantaran sungai, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mitigasi bencana berbasis ekologi.

“Harapannya semoga dengan adanya program penanaman bambu ini mengingatkan kita kembali akan pentingnya keseimbangan ekologis dan saling menyadarkan bersama betapa pentingnya langkah mitigasi bencana. Bambunya juga diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga diperlukan perhatian dan perawatan bersama, khususnya oleh masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Selain penanaman, mahasiswa KKN-PPM UGM juga menggelar diskusi bersama masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekologi sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana. Dalam kegiatan tersebut, warga diajak memahami peran vegetasi dalam menyerap air hujan, mengurangi erosi, serta menjaga stabilitas bantaran sungai.

Pendekatan kolaboratif yang melibatkan mahasiswa, pemerintah desa, komunitas peduli lingkungan, dan masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program sehingga keberlanjutannya dapat terjaga.

Pendekatan berbasis alam melalui penanaman bambu sendiri dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk meningkatkan daya serap air, memperkuat kawasan sempadan sungai, sekaligus membangun ketahanan masyarakat terhadap banjir.

Dengan pengelolaan bambu secara berkelanjutan oleh Pemerintah Desa Limboro dan dukungan masyarakat, program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis berupa pengurangan risiko banjir dan erosi, tetapi juga membuka peluang manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat pada masa mendatang.

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 30 July, 2026
Untuk update berita di beritapalu.id, ikuti saluran kami di sini: Saluran WhatsApp

Leave a Reply