PALU – Awal tahun 2010 menjadi salah satu periode yang cukup berkesan bagi saya. Saat itu, saya mulai mengenal sosok Steve Jobs dan produk Apple melalui iPhone 3G dan iPhone 3GS, dengan sistem operasi iOS yang ketika itu terasa sangat fenomenal. Saya bukan hanya tertarik pada perangkatnya, tetapi juga pada cara Apple menghadirkan sebuah teknologi yang terasa berbeda dari produk ponsel pada zamannya.
Setahun kemudian, pada 2011, saya membuka AHS (Apple Home Service) di Kota Palu. Saat itu saya menjadi satu-satunya tempat service khusus produk Apple di kota tersebut. Banyak orang bahkan bertanya, “Memangnya ada yang pakai iPhone di Palu?” Pertanyaan itu cukup masuk akal karena pada masa tersebut BlackBerry masih sangat dominan. Produk Apple sendiri baru berada di era iPhone 3G, 3GS, iPhone 4, dan kemudian iPhone 4S.
Namun, dari perjalanan itu saya mulai melihat bagaimana sebuah produk teknologi dapat mengubah kebiasaan dan cara pandang masyarakat.
Saya juga semakin menyadari bahwa dalam industri teknologi, tidak ada yang benar-benar menjadi penguasa selamanya. Kita pernah melihat bagaimana Nokia menjadi kekuatan besar di dunia ponsel selama bertahun-tahun. Kemudian datang BlackBerry yang seolah-olah menjatuhkannya dalam waktu relatif singkat. Bukan hanya perangkat BlackBerry yang menarik perhatian, tetapi juga BBM dan paket data unlimited yang membuat komunikasi melalui ponsel menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Pada masa itu, rasanya hampir semua orang ingin memiliki BlackBerry. BBM menjadi identitas tersendiri. Orang yang tidak menggunakan BlackBerry bisa dianggap ketinggalan zaman.
Tetapi situasi kembali berubah. Apple dan Android kemudian mengambil alih panggung dan perlahan menggeser dominasi BlackBerry. Pada 2016, BlackBerry berhenti memproduksi perangkatnya sendiri. Bahkan BBM, yang sebelumnya menjadi salah satu kekuatan utama BlackBerry, akhirnya dibuka untuk pengguna iOS dan Android.
Ironisnya, BBM kemudian harus menghadapi pesaing yang jauh lebih kuat. Pada 2019, layanan BBM akhirnya dihentikan dan menghilang dari berbagai platform. Kali ini, salah satu produk yang ikut mengakhiri kejayaannya adalah WhatsApp.
Dari situ saya belajar bahwa dalam dunia teknologi, posisi sebagai penguasa tidak pernah permanen. Hari ini sebuah perusahaan bisa berada di puncak, tetapi beberapa tahun kemudian dapat tergeser oleh teknologi yang sebelumnya mungkin tidak terlalu diperhitungkan.
Bagi saya sendiri, hubungan dengan Apple juga mengalami perubahan.
September 2018, ketika Apple meluncurkan iPhone XR, menjadi salah satu momen terakhir ketika saya benar-benar mengagumi produk Apple. Setelah itu, pandangan saya mulai berubah, terutama ketika saya melihat perkembangan produk Apple dari sisi teknis sebagai orang yang pernah berkecimpung di dunia service.
Pada 2019, Apple meluncurkan iPhone 11. Di periode inilah saya mulai memutuskan untuk berhenti menggunakan produk Apple.
Sebagai teknisi, saya melihat perangkat Apple semakin kompleks. Untuk beberapa pekerjaan seperti penggantian LCD, terdapat chip dan komponen tertentu yang harus dipindahkan atau dikloning dari komponen lama. Urusan baterai pun semakin rumit dengan adanya sistem Battery Health dan berbagai pengaturan yang membuat proses perbaikan tidak sesederhana perangkat pada generasi sebelumnya.
Bagi saya, persoalannya bukan semata-mata karena teknologinya menjadi lebih canggih. Saya mulai merasa bahwa semakin lama, sebuah perangkat yang seharusnya memudahkan kehidupan justru semakin rumit ketika harus diperbaiki.
Akhirnya saya memutuskan berhenti menggunakan iPhone. Tidak lama setelah itu, perjalanan AHS pun saya akhiri dan saya memilih untuk menutupnya.
Kemudian tadi malam, 9 September 2026, Apple kembali menjadi perhatian dunia dengan peluncuran generasi iPhone terbaru, termasuk iPhone 18 dan iPhone Duo, perangkat lipat yang kabarnya berada di kisaran harga US$1.900 atau sekitar Rp34 juta.
Melihat perkembangan tersebut, saya kembali teringat pada masa ketika pertama kali mengenal Apple dan Steve Jobs.
Saya tidak mengatakan bahwa produk tersebut buruk. Saya juga tidak mempersoalkan orang yang memiliki kemampuan finansial dan memang ingin membeli perangkat dengan harga tersebut. Itu adalah pilihan masing-masing.
Namun, saya mulai bertanya pada diri sendiri: sebenarnya kita membeli sebuah smartphone karena fungsi atau karena gengsi?
Ketika melihat persaingan iPhone Duo dengan Samsung Z Fold, saya kembali melihat bagaimana Apple kini masuk ke segmen yang sebelumnya lebih dahulu dikembangkan oleh Samsung. Bagi saya, perkembangan tersebut menarik sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana arah inovasi Apple setelah era Steve Jobs.
Pada akhirnya, sebuah ponsel tetap memiliki fungsi dasar yang relatif sama. Untuk berkomunikasi, menggunakan WhatsApp, mengambil foto, mengakses internet, bekerja, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Selama perangkat tersebut tidak mengalami lag, memiliki baterai yang mampu bertahan seharian, serta kamera yang cukup baik, bagi saya kebutuhan utama sebuah smartphone sebenarnya sudah terpenuhi.
Kalau seseorang memiliki kelebihan uang dan ingin membeli iPhone seharga Rp34 juta, tentu tidak ada masalah. Itu hak masing-masing. Yang menurut saya perlu dipikirkan adalah jangan sampai kebutuhan konsumtif dipaksakan hanya demi mempertahankan gengsi atau harga diri.
Jangan sampai kita membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena takut dianggap tidak mampu atau tertinggal dari orang lain.
Bagi saya, teknologi seharusnya hadir untuk membantu kehidupan manusia, bukan membuat manusia terus-menerus mengejar teknologi.
Dulu saya mengagumi Apple karena Steve Jobs membuat saya melihat masa depan melalui sebuah perangkat bernama iPhone. Kini, setelah melihat perjalanan Apple selama bertahun-tahun, saya justru sering bertanya dalam hati: kalau Steve Jobs masih ada, apakah Apple akan menjadi seperti sekarang?
Penulis: Steve Oy
Artikel ini adalah kiriman dari Steve Oy. Penulis adalah praktisi dan pegiat teknologi asal Kota Palu.











