PaluPemkot PaluReligi

Mantan Gubernur Rusdy Mastura Lebih Memilih Shalat Id di Vatulemo

×

Mantan Gubernur Rusdy Mastura Lebih Memilih Shalat Id di Vatulemo

Share this article
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid (ketiga kiri) bersama Gubernur Sulteng periode 2021-2024, Rusdy Mastura membaca naskah khutbah tertulis usai melaksanakan shalat Id di Lapangan Vatulemo Palu, Sabtu (21/3/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Jufri)
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid (ketiga kiri) bersama Gubernur Sulteng periode 2021-2024, Rusdy Mastura membaca naskah khutbah tertulis usai melaksanakan shalat Id di Lapangan Vatulemo Palu, Sabtu (21/3/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Jufri)

PALU, beritapalu.ID | Mantan Gubernur Sulawesi Tengah periode 2021–2024, Rusdy Mastura, memilih merayakan Idul Fitri 1447 H bersama warga Kota Palu di Lapangan Vatulemo, Sabtu (21/3/2026). Ia hadir bersama sejumlah tokoh lainnya, termasuk mantan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding.

Lapangan Vatulemo menjadi pusat pelaksanaan Shalat Idulfitri Pemerintah Kota Palu yang dihadiri Wali Kota Palu Hadianto Rasyid, Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin, serta Sekretaris Daerah Irmayanti Pettalolo dan sejumlah pejabat lingkup Pemkot Palu.

Bertindak sebagai khatib adalah Sahran Raden, Ketua LPPM UIN Datokarama Palu sekaligus Ketua Umum ISNU Sulawesi Tengah. Khutbahnya mengangkat tema “Kemabruran Puasa, Taqwa Berkelanjutan; Sarana Satukan Hati dalam Membangun Negeri”, menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan titik awal memperbaiki diri.

“Mari jadikan ini sebagai awal baru, hilangkan sekat-sekat di antara kita,” pesan khatib.

Wali Kota Hadianto dalam keterangannya usai shalat menyampaikan harapan agar momentum Idul Fitri menjadi ajang refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Perayaan Idulfitri hari ini kita harapkan menjadi momentum yang baik untuk mengevaluasi diri dan menjadikan apa yang telah kita lewati di bulan suci Ramadan sebagai pembelajaran,” ujarnya.

 

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 21 March, 2026
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.