Foto

Porame, Inovasi di Tengah Tradisi Sawah

×

Porame, Inovasi di Tengah Tradisi Sawah

Share this article
Petani menunjukkan bulir bibit padi yang telah diwarnai yang akan ditanam dengan pipa tanam di Desa Porame, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (10/11/2024). Meskipun sebagan besar petani di wilayah itu masih mempertahankan sisten tanam padi tradisional tanpa persemaian bibit, namun mereka telah mengembangkan teknologi tanam padi sederhana dengan memanfaatkan pipa paralon yang diberi beberapa lubang kecil untuk menebar bibit padi dan terbukti menghemat waktu penanaman hingga 17 kali lebih cepat dari cara manual atau konvensional. (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Petani menunjukkan bulir bibit padi yang telah diwarnai yang akan ditanam dengan pipa tanam di Desa Porame, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (10/11/2024). Meskipun sebagan besar petani di wilayah itu masih mempertahankan sisten tanam padi tradisional tanpa persemaian bibit, namun mereka telah mengembangkan teknologi tanam padi sederhana dengan memanfaatkan pipa paralon yang diberi beberapa lubang kecil untuk menebar bibit padi dan terbukti menghemat waktu penanaman hingga 17 kali lebih cepat dari cara manual atau konvensional. (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Di tengah modernisasi pertanian yang kian masif, petani di Porame, Sigi, justru memilih jalan berbeda. Mereka tetap setia pada tradisi menanam padi dengan cara tabur langsung—menyebarkan bulir-bulir bibit padi ke permukaan sawah yang sudah diolah. Bukan karena tak mau berubah, tapi karena tradisi ini terbukti cocok dengan kondisi tanah dan iklim setempat.

Namun, petani Porame bukan penganut tradisi yang kaku. Mereka sadar bahwa waktu adalah aset berharga. Maka lahirlah inovasi sederhana namun brilian, yakni alat tanam padi dari pipa paralon yang dilubangi kecil-kecil. Cara kerjanya simpel—pipa diisi dengan bulir bibit padi, lalu disebar merata ke dalam pipa, lalu alat itu ditarik dari ujung pematang ke ujung lainnya, menyebarkan benih secara merata melalui luabang kecil dalam waktu singkat.

Hasilnya? Luar biasa. Proses penanaman yang biasanya menghabiskan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan 17 kali lebih cepat! Efisiensi tanpa mengorbankan esensi tradisi. Inilah wajah pertanian masa kini: menghormati warisan leluhur sambil merangkul kepraktisan zaman.

Di balik kesederhanaan alat dari paralon itu, tersimpan filosofi mendalam: inovasi sejati lahir dari kebutuhan nyata, bukan sekadar mengikuti tren. Petani Porame membuktikan bahwa kemajuan tak selalu berarti meninggalkan akar, tapi bisa juga berarti memperkuatnya dengan cara yang lebih cerdas.

#PetaniPorame #InovasiPertanian #TradisiSawah #PertanianCerdas #Palu #SulawesiTengah

 

View this post on Instagram

 

A post shared by beritapalu.ID (@beritapalu_id)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 10 November, 2025
Untuk update berita di beritapalu.id, ikuti saluran kami di sini: Saluran WhatsApp
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.