PALU, beritapalu.ID | Hasil kajian ekosistem mangrove di kawasan Oncone Raya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, di mana dari luas sekitar 31,44 hektar, hanya sekitar 18,7% yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3% telah beralih menjadi tambak dan 31% merupakan areal terbuka.
Temuan ini disampaikan dalam Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan (Fahutan) Untad, Rabu (22/04/2026).
Dr Bau Toknok yang menyampaikan materi bertajuk Kajian Spesies Ekosistem Mangrove dan Lahan Rehabilitasi Perhutanan Sosial di Desa Oncone Raya menekankan, kondisi ini menunjukkan tekanan yang cukup besar terhadap ekosistem mangrove sehingga diperlukan strategi rehabilitasi yang tepat dan berbasis data lapangan.
“Sabuk pesisir yang sehat, masyarakat yang kuat,” tegasnya, menekankan keterkaitan erat antara kesehatan ekosistem mangrove dengan ketahanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.
Bau menjelaskan, pendekatan yang digunakan tidak hanya mengukur metrik biofisik tetapi juga melibatkan masyarakat setempat melalui forum diskusi kelompok (FGD), penggunaan enumerator lokal, serta penggalian pengetahuan tradisional yang telah lama berkembang di masyarakat pesisir.
Dekan Fahutan Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Yusran menyampaikan, seminar ini merupakan kolaborasi antara Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) dan Fahutan yang menjadi langkah strategis dalam menghasilkan kajian komprehensif.
“Materi yang dipaparkan hari ini sangat penting karena mencakup analisis kondisi lapangan sekaligus rekomendasi teknis yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan rehabilitasi yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Sementara itu, Ir Erika yang mewakili Dr. Ir. Sudirman Dg. Massiri menyampaikan materi Kajian Spesies Tahura Sulawesi Tengah dengan Pendekatan Etnobiologi dan Plot. Ia menjelaskan, kawasan Tahura Sulteng dengan luas sekitar 5.195 hektar yang mencakup wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi merupakan aset strategis yang tidak tergantikan.
“Kawasan Tahura Sulawesi Tengah adalah aset strategis yang tidak tergantikan, sehingga pengelolaannya harus berbasis data ilmiah sekaligus memperhatikan pengetahuan lokal masyarakat,” ungkapnya.
Erika menambahkan, kawasan Tahura dibagi ke dalam beberapa zonasi yakni blok perlindungan, blok koleksi dan khusus, blok pemanfaatan, blok rehabilitasi, serta blok tradisional. Pohon Cendana merupakan salah satu spesies tanaman penciri yang ada di Tahura Sulteng.
Kegiatan yang dipandu Madina Dwi ini diinisiasi oleh ROA berkolaborasi dengan Fahutan Untad dan didukung oleh Yayasan KEHATI melalui program SOLUSI Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia, sebuah inisiatif hasil kerja sama antara BAPPENAS dan Pemerintah Jerman (BMUV).
Peserta yang hadir memberikan tanggapan, termasuk menyoroti tantangan implementasi hasil kajian di lapangan seperti keterbatasan data, penerapan berkelanjutan, serta perlunya penguatan kapasitas masyarakat lokal.











