PALU, beritapalu.ID | Suasana di SD Inpres Palupi, Palu, Selasa (21/4/2026) berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.30 WITA, satu per satu siswa berdatangan dengan balutan pakaian tradisional. Anak laki-laki mengenakan batik, beberapa lengkap dengan peci atau penutup kepala khas daerah, sementara anak perempuan tampil anggun dengan kebaya dan busana tradisional beragam warna.
Ini menjadi kali pertama sekolah tersebut merayakan Hari Kartini dengan melibatkan seluruh siswa. Tidak ada kesan kaku atau seremonial berlebihan. Justru yang terasa adalah suasana riuh, santai, dan penuh warna—persis seperti dunia anak-anak.
Sebelum acara utama dimulai, para siswa terlebih dahulu mengikuti parade sederhana berdasarkan kelas masing-masing. Mereka berjalan beriringan, meski barisan itu tak selalu rapi. Baru saja diarahkan ke kiri, beberapa di antaranya sudah berhamburan ke kanan, saling bercanda dan tertawa. Guru-guru tampak sibuk mengatur, tapi tak bisa sepenuhnya menahan spontanitas anak-anak.
Puncak kegiatan adalah fashion show yang menampilkan dua hingga tiga pasangan dari setiap kelas, mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Tidak ada rundown yang benar-benar baku. Ketika tiba giliran, nama dipanggil, anak-anak langsung maju ke “panggung” sederhana—selembar karpet hijau yang dibentangkan di halaman sekolah.
Sebelum tampil, mereka sempat mendapat arahan singkat dari guru kelas masing-masing. Cara berjalan, posisi tangan, hingga gaya sederhana ala model diperagakan secara cepat. Namun begitu naik ke karpet, semua kembali pada karakter masing-masing. Ada yang percaya diri melangkah tegap, ada pula yang malu-malu sambil menunduk, bahkan ada yang justru melambai ke arah penonton.
Tingkah polos itu sontak mengundang tawa. Tidak hanya dari sesama siswa, tetapi juga dari para orang tua yang hadir khusus untuk menyaksikan. Beberapa guru pun tak kuasa menahan senyum, bahkan terpingkal melihat aksi spontan anak-anak yang jauh dari kesan formal sebuah peragaan busana.
Di balik kesederhanaannya, kegiatan ini menyimpan makna yang cukup dalam. Perayaan ini digelar untuk memperingati Hari Kartini sekaligus menanamkan nilai kesetaraan, kemandirian, dan kecintaan terhadap budaya sejak usia dini. Anak-anak tidak hanya memakai pakaian tradisional, tetapi juga belajar tampil, berani, dan menghargai keberagaman.
Lebih dari itu, busana yang mereka kenakan menjadi pintu masuk untuk mengenal warisan budaya. Di tengah arus modern yang begitu cepat, upaya sederhana seperti ini menjadi cara yang dekat dan mudah dipahami oleh anak-anak untuk tetap terhubung dengan akar budaya mereka.
Perayaan perdana ini mungkin belum sempurna. Tidak ada susunan acara yang rapi, barisan sering kali berantakan, dan panggungnya pun sederhana. Namun justru di situlah letak kehangatannya. Dari langkah kecil di atas karpet hijau, anak-anak belajar banyak hal—tentang percaya diri, tentang kebersamaan, dan tentang menjadi diri sendiri, serta tentang Kartini yang menjadi role model kesetaraan..
View this post on Instagram








