PaluPemkot Palu

Hadianto Berbagi Kisah Hidup Hingga Jadi Wali Kota Palu

×

Hadianto Berbagi Kisah Hidup Hingga Jadi Wali Kota Palu

Share this article
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid (tengah) pada interactive English talkshow di Palu, Minggu (22/9/2024). (Foto: Prokopimda Palu/Jufri)
Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid (tengah) pada interactive English talkshow di Palu, Minggu (22/9/2024). (Foto: Prokopimda Palu/Jufri)

PALU, beritapalu | Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid membeberkan kisah hdupnya mulai dari masa-masa di bangku sekolah hingga mencapai posisinya saat ini sebagai Wali Kota Palu pada interactive English talkshow di Palu, Minggu (22/9/2024).

Takshow bertema ‘Inspire the Young Generation’ yang menghadirkan Putri Indonesia Sulawesi Tengah 2023 itu diikuti oleh pelajar SMA/SMK se-Kota Palu dan mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris, Fakuktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FTIK) Universitas Tadulako dan merupakan rangkaian dari Great Reunion Program Studi Bahasa Inggris FKIP Untad.

Wali kota memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah dalam mengejar impian.

Wali kota juga menekankan pentingnya memiliki panutan dalam hidup, di mana beliau mengaku sangat mengidolakan Nabi Muhammad SAW dan Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno, sebagai figur pemimpin yang inspiratif.

“Lakukan yang terbaik dan jadilah orang yang memiliki komitmen yang baik untuk dirimu sendiri, serta konsisten,” pesan Wali Kota Hadianto Rasyid kepada seluruh peserta yang hadir.

Talkshow ini diharapkan dapat memotivasi para peserta untuk meraih mimpi mereka dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. (afd/imr/*)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 22 September, 2024
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.