PALU, beritapalu.id – Akademisi UIN Datokarama Palu, Dr. Arifuddin M. Arif, menilai kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) perlu penguatan di era disrupsi. Langkah ini penting guna membentuk daya ber-Tuhan dan daya bertahan siswa dalam menghadapi perubahan zaman.
Pernyataan itu ia sampaikan saat mengajar kuliah Isu-Isu Strategis PAI di Pascasarjana UIN Datokarama,Senin (26/10/2026). Ia menegaskan kurikulum PAI harus mampu menjawab tantangan era modern.
“Kita harus memperkuat kurikulum PAI era disrupsi untuk mencetak siswa berdaya ber-Tuhan dan berdaya bertahan,” ujar Arifuddin.
Ia menjelaskan, daya ber-Tuhan berkaitan dengan kekuatan spiritual dan akhlak. Sementara daya bertahan mencerminkan ketangguhan siswa menghadapi tekanan serta beradaptasi tanpa kehilangan identitas keislaman.
Tantangan utama PAI saat ini adalah kesenjangan materi normatif dengan kebutuhan nyata. Pembelajaran hafalan berisiko membuat siswa memahami agama sebatas teori.
Tantangan kian berat akibat pesatnya teknologi digital, kecerdasan buatan, dan krisis lingkungan. Kondisi ini menuntut PAI membekali siswa berpikir kritis, menjaga etika digital, dan menghargai perbedaan.
Pemisahan ilmu agama dan ilmu umum masih terjadi. Keterbatasan kompetensi pengajar serta pendekatan kurang kontekstual turut menjadi kendala.
“Penguatan kurikulum harus memperkokoh tradisi keislaman. Kita wajib merespons perubahan zaman dan berperan aktif,” tegasnya.
Penguatan kurikulum PAI berfokus pada tiga aspek: ilmu, nilai, dan keterampilan. Penguatan ilmu memperluas wawasan. Penguatan nilai membentuk karakter. Penguatan keterampilan menyiapkan siswa memasuki dunia kerja.
Lembaga pendidikan perlu mengalihkan fokus ke pembelajaran berbasis kompetensi. Pengajar dapat menerapkan metode berbasis masalah, proyek, atau analisis isu aktual.
Kurikulum wajib menyatukan ilmu keislaman dengan sains. Pengajar dapat mengaitkan materi zakat dengan penanganan kemiskinan. Pembahasan akhlak bisa merespons etika digital dan kelestarian alam.
Arifuddin menekankan pentingnya keterampilan masa depan seperti literasi digital, kreativitas, dan kolaborasi.Pengembangan kompetensi harus seiring pembentukan karakter lewat keteladanan dan pembiasaan.
Pendekatan ini membuka peluang lahirnya generasi cerdas, tangguh, dan berakhlak. Keberhasilan program membutuhkan kesiapan pendidik, inovasi belajar, dan evaluasi menyeluruh.











