DONGGALA – Perubahan iklim mulai memberi tekanan terhadap perkebunan kelapa rakyat. Menghadapi kondisi tersebut, Karsa Institute bekerja sama dengan SNV melalui Proyek SOLUSI menggelar Training of Trainers (ToT) Master Trainer untuk memperkuat kapasitas penyuluh dan petani dalam menerapkan praktik perkebunan kelapa yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Pelatihan bertema Good Agricultural Practices (GAP) Agroforestri Kelapa Berketahanan Iklim itu berlangsung selama dua hari, 6–7 Oktober 2026, di Sangganipa Cottage, Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Kegiatan tersebut merespons berbagai tantangan yang dihadapi perkebunan rakyat, mulai dari variabilitas dan perubahan iklim, bencana hidrometeorologi, tanaman kelapa yang menua, hingga masih terbatasnya penerapan praktik budidaya yang baik.
Sebanyak 15 peserta mengikuti pelatihan. Mereka terdiri atas lima Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari BPP Tanamea serta 10 perwakilan petani dan tokoh masyarakat dari Desa Tolongano, Lembasada, Tanamea, dan Tosale.
Elfira, petani perempuan dari Desa Lembasada, mengatakan pelatihan tersebut membantunya memahami hubungan antara perubahan iklim dan penurunan hasil pertanian kelapa.
“Melalui kegiatan ini saya bisa memahami bagaimana perubahan iklim berdampak pada hasil pertanian kelapa kami saat ini,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan juga memberikan pengetahuan mengenai langkah adaptasi melalui sistem agroforestri, sekaligus membuka wawasan mengenai pemanfaatan hasil turunan kelapa.
Ia menyebut sejumlah produk yang dapat dikembangkan dari kelapa, seperti virgin coconut oil (VCO), nata de coco, minyak kelapa, hingga briket.
“Dengan pelatihan ini saya jadi tahu bagaimana melakukan aksi adaptasi perubahan iklim melalui sistem agroforestri, sekaligus bagaimana memanfaatkan dan mengolah berbagai hasil turunan dari tanaman kelapa,” katanya.
Pelatihan menggunakan model pembelajaran berjenjang (cascade training model) dengan metode blended learning. Peserta memperoleh materi mengenai perubahan iklim, agroforestri kelapa, manajemen pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan dan pengolahan pascapanen, serta pembibitan dan penyiapan lahan.
Tidak hanya berlangsung di ruang kelas, peserta juga mengikuti sesi micro-teaching untuk mengasah kemampuan menerapkan metode pembelajaran bagi orang dewasa (adult learning). Praktik lapangan dilakukan di kebun percontohan atau demoplot untuk memperkuat pemahaman teknis peserta.
Direktur Eksekutif Karsa Institute, Rahmat Saleh, bersama jajaran Bapperida dan Dinas Pertanian Kabupaten Donggala turut menghadiri pembukaan kegiatan.
Melalui skema pelatihan berjenjang, peserta dipersiapkan menjadi Master Trainer yang tidak hanya menguasai aspek teknis budidaya kelapa, tetapi juga mampu memfasilitasi proses pembelajaran bagi petani di tingkat desa.
Di akhir pelatihan, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL). Para Master Trainer selanjutnya diharapkan mereplikasi materi pelatihan dan memberikan pendampingan teknis kepada kelompok tani di desa masing-masing.
Pengetahuan mengenai praktik budidaya yang adaptif pun diharapkan tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi diteruskan melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan di tingkat desa.
Pendekatan agroforestri dan penerapan Good Agricultural Practices diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya petani memperkuat ketahanan kebun menghadapi perubahan iklim, sekaligus menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha perkebunan kelapa.











