JAKARTA, beritapalu.ID | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan dua roadmap strategis untuk mempercepat pengembangan pasar keuangan nasional dan mencapai target keberlanjutan lingkungan. OJK menargetkan pertumbuhan akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan mencapai 55,11 persen per tahun dalam periode 2026-2030.
Kedua roadmap yang diluncurkan pada Jumat (14/4/2026) adalah Roadmap Pengembangan Pasar Derivatif Berlandaskan Instrumen Pasar Modal 2026–2030 dan Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030. Penerbitan ini merupakan langkah untuk memperkuat pendalaman pasar keuangan, meningkatkan pelindungan investor, serta mendorong pendanaan dan investasi berkelanjutan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan target net zero emission Indonesia pada 2060.
Pasar Derivatif Lebih Likuid dan Kredibel
Roadmap Pasar Derivatif dirancang melalui empat pilar utama. Pertama, penguatan pelindungan investor melalui pengembangan kerangka klasifikasi investor, harmonisasi standar know your customer, pembatasan leverage, dan penerapan negative balance protection. Kedua, harmonisasi dan pengawasan intermediari dengan penyelarasan perizinan dan standar tata kelola. Ketiga, pengembangan pasar melalui ekspansi variasi produk derivatif dan peningkatan partisipasi investor institusi. Keempat, efisiensi infrastruktur dengan penguatan struktur bursa dan lembaga kliring sesuai standar internasional.
Investasi Berkelanjutan Tumbuh Pesat
Untuk pasar modal berkelanjutan, OJK memiliki empat pilar strategi: memperkuat fondasi melalui perumusan kebijakan dan regulasi, menumbuhkan aktivitas pasar dengan diversifikasi produk, mendorong partisipasi melalui perangkat pendukung dan insentif, serta memperkuat kolaborasi domestik dan internasional.
Per Desember 2025, total akumulasi penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan telah mencapai IDR 74,14 triliun (USD 4,43 miliar). Komposisinya didominasi oleh tema Lingkungan (green) 42,72 persen, diikuti Sosial (social) 28,82 persen, Keberlanjutan (sustainability) 26,44 persen, dan Sustainability-linked 2,02 persen.
Proyeksi pertumbuhan 55,11 persen per tahun menunjukkan OJK sangat optimis pasar modal berkelanjutan akan berkembang signifikan di tahun-tahun mendatang.
Reksa Dana ESG Tumbuh 14,36% Per Tahun
Untuk produk investasi, pasar modal Indonesia memiliki reksa dana berbasis ESG dengan nilai Assets Under Management (AUM) mencapai Rp9,98 triliun (USD 596,96 juta) per Desember 2025. Komposisinya terdiri dari reksa dana indeks 52,88 persen, reksa dana pendapatan tetap 18,21 persen, dan exchange traded fund (ETF) 17,46 persen. Produk ini diproyeksikan tumbuh rata-rata 14,36 persen per tahun.
Pasar modal Indonesia juga telah memiliki berbagai indeks berbasis ESG, termasuk SRIKEHATI, IDX ESG Leaders, dan IDX LQ45 Low Carbon Leaders, yang digunakan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan investasi.
OJK mengharapkan kedua roadmap ini menciptakan sinergi kuat antara pengembangan instrumen keuangan, peningkatan pelindungan investor, serta penguatan pendanaan dan investasi berkelanjutan dalam mendukung pencapaian target pembangunan nasional yang lebih rendah karbon.











