LingkunganPalu

Basarnas Palu Bersihkan Pantai Mangrove Dupa dalam Pra Event HPSN

×

Basarnas Palu Bersihkan Pantai Mangrove Dupa dalam Pra Event HPSN

Share this article
Sejumlah personel Basarnas Palu membersihkan sampah di area konservasi mangrove, Pantai Dupa, Layana Indah, Palu, Jumat (30/1/2026). (©Basarnas Palu)
Sejumlah personel Basarnas Palu membersihkan sampah di area konservasi mangrove, Pantai Dupa, Layana Indah, Palu, Jumat (30/1/2026). (©Basarnas Palu)

PALU, beritapalu.ID | Personel Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu turut serta dalam pelaksanaan pra event Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tingkat Kota Palu Tahun 2026 dengan aksi pembersihan pantai di kawasan mangrove Dupa, Kelurahan Layanan Indah, Jumat (30/1/2026).

Kegiatan ini mengusung tema “Save Our Mangrove from Trash” dengan fokus pada aksi pungut sampah di sepanjang pesisir pantai sebagai upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem mangrove yang memiliki peran penting bagi wilayah pesisir.

Personel Basarnas Palu yang dikoordinir langsung oleh Kepala Urusan Umum turut aktif membersihkan berbagai jenis sampah, mulai dari plastik, botol bekas, hingga limbah rumah tangga yang mencemari kawasan tersebut. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai unsur instansi dan masyarakat sekitar.

Kaur Umum Basarnas Palu Ruslan mengatakan, keikutsertaan Basarnas dalam kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan ajakan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan pantai.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, khususnya kawasan mangrove. Kalau pantai bersih, ekosistem juga terjaga dan manfaatnya bisa dirasakan oleh kita semua,” ujarnya.

Dengan adanya pra event HPSN ini, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta membangun budaya tidak membuang sampah sembarangan, terutama di wilayah pesisir.

 

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 30 January, 2026
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.