FotoSeni Budaya

Yang Paling Ditunggu Itu Bernama Dero Bersama

×

Yang Paling Ditunggu Itu Bernama Dero Bersama

Share this article
Warga memainkan Tari Dero secara massal di Taman GOR Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (4/5/2024). (bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Warga memainkan Tari Dero secara massal di Taman GOR Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (4/5/2024). (bmzIMAGES/Basri Marzuki)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by beritapalu.com (@berita_palu)

RIBUAN warga berdiri mengelilingi panggung utama yang terletak tepat di belakang patung Presiden I RI Soekarno di Taman GOR Palu, Sabtu (4/5/2024) malam. Warga yang berjubel itu tak bergeming meski waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 Wita.

Seketika host yang memandu acara mengumumkan bahwa kompetisi tari dero kreasi yang merupakan rangakaian acara Pagelaran Seni dan Budaya To Pamona Poso di tempat itu selesai dilakukan, maka tak ayal lagi, kermununan massa itu kian berkerubut.

“Tibalah kita di penghujung acara, yakni dero bersama,” ujar host disambut teraikan yel-yel kumpulan warga yang sedari tadi menunggu acara pamungkas itu.

Suara ria musik pengiring pun bergema melalui speaker bertenaga ribuan megawatt ke seluruh penjuru, membungkam riuhnya para penonton kompetisi olahraga basket di sebelahnya. Dan tanpa di komando, warga pun merangsek ke tengah arena sembari berjingkrak memainkan tari khas suku Pamona Poso itu.

Tapi sesaat kemudian, host menghentikannya. Pasalnya, ruang yang sempit, panggung yang sesak membuat suasana menjadi tidak kondusif. “Tolong panggung disterilkan, kita tidak bisa bermain dero kalau begini. Jika tidak, terpaksa dero Bersama ini kita batalkan,” ancam host.

Warga yang “haus” dengan tari khas massal yang tak sering digelar itu pun menurut saja hingga suara music pun kembali berdentum.

Remaja, dewasa, pria, wanita, dan anak-anak pun larut dalam tari itu, tak terkecuali warga Poso yang berdiam di Palu yang sengaja datang ke tempat itu untuk mengobati kerinduan akan kekhasan tradisi kampung halamannya yang sudah cukup lama tak dilakoninya.

Dan… byarrr… ruang di depan panggung terlalu sempit untuk menampung antusias warga untuk menarikan dero itu. Mereka yang tak kebagian ruang lagi terpaksa membentuk lingkaran-lingkaran kecil di sekitarnya agar bisa membenamkan rasa kebersamaannya di momentum itu.

Dero yang khas itu merekatkan, mempersatukan, dan menguatkan kebersamaan itu. Tari Dero yang telah menjadi bagian dari tradisi Suku Pamona di Poso telah menancapkan kearifan di antara warga untuk hidup dan menjalani kehidupan bersama tanpa alas latar, asal dan tingkatan social. (bmz)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 5 May, 2024
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.