InternasionalLingkunganNasional

FAO Buka Hibah Kecil Hingga USD 75.000 untuk Organisasi Masyarakat Sipil

×

FAO Buka Hibah Kecil Hingga USD 75.000 untuk Organisasi Masyarakat Sipil

Share this article

Dukung Aksi Lingkungan Berkelanjutan dan Penghidupan Komunitas

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal (kiri) dan Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan Yani Witjaksono (kanan) menandatangani Perjanjian Kemitraan Operasional Fase Operasional ke-8 Program Hibah Kecil Fasilitas Lingkungan Global (GEF SGP-OP8) pada hari Rabu (13/5) di kantor FAO Indonesia di Jakarta. (©FAO Indonesia)
Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal (kiri) dan Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan Yani Witjaksono (kanan) menandatangani Perjanjian Kemitraan Operasional Fase Operasional ke-8 Program Hibah Kecil Fasilitas Lingkungan Global (GEF SGP-OP8) pada hari Rabu (13/5) di kantor FAO Indonesia di Jakarta. (©FAO Indonesia)

FAO dan YBUL luncurkan GEF SGP-OP8 di Indonesia dengan membuka akses hibah kecil USD 75.000 plus dukungan teknis. Organisasi masyarakat sipil bisa mendaftar dari Juni 2026 untuk proyek konservasi, pertanian berkelanjutan, dan solusi lingkungan lainnya dengan dampak global.

JAKARTA, beritapalu.ID | Organisasi masyarakat sipil dan berbasis komunitas di Indonesia kini dapat mengakses hibah kecil hingga USD 75.000 (sekitar Rp 1,2 miliar) melalui Program Hibah Kecil Global Environment Facility (GEF SGP). FAO menandatangani Perjanjian Kemitraan Operasional dengan Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) pada Rabu (13/5/2026) untuk meluncurkan GEF SGP Fase Operasional Kedelapan (OP8) di Indonesia. Penerima hibah tidak hanya mendapat dana tetapi juga dukungan teknis dari FAO untuk memperkuat kapasitas komunitas dalam mewujudkan aksi lingkungan yang berkelanjutan dan meningkatkan mata pencaharian lokal.

FAO bergabung dengan GEF SGP-OP8 dan mengimplementasikan program ini di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, FAO bermitra dengan YBUL, lembaga nirlaba yang telah mengelola GEF SGP sejak tahun 1997. Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste, menekankan bahwa dalam menghadapi tantangan global yang kompleks, diperlukan pendekatan bottom-up yang memberdayakan masyarakat setempat untuk mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. FAO berkomitmen memberikan dukungan teknis kepada penerima hibah dan memperkuat kapasitas komunitas akar rumput untuk menghadirkan solusi inovatif mereka sendiri.

“FAO berkomitmen untuk memberikan dukungan teknis kepada penerima hibah GEF SGP, memperkuat kapasitas masyarakat akar rumput untuk menghadirkan solusi mereka sendiri.”

“Tujuan kami adalah untuk melokalisasi komitmen internasional Indonesia dengan memberdayakan mereka yang merupakan penjaga sejati keanekaragaman hayati kita: masyarakat lokal dan Masyarakat Adat.”

— Rajendra Aryal (FAO) & Yani Witjaksono (Direktur Eksekutif YBUL)

GEF SGP akan memprioritaskan pendanaan untuk inisiatif yang selaras dengan komitmen Indonesia dan rencana pembangunan global, dengan fokus pada lima isu prioritas: konservasi berbasis masyarakat untuk ekosistem dan spesies terancam punah, pertanian dan perikanan berkelanjutan serta ketahanan pangan, akses energi rendah karbon, koalisi lokal-global untuk pengelolaan bahan kimia dan limbah, serta solusi perkotaan berkelanjutan. Pemangku kepentingan di tingkat nasional dan lokal akan memilih wilayah prioritas dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, tantangan lingkungan, dan pengalaman pembiayaan GEF SGP sebelumnya.

Selain hibah langsung, GEF SGP akan memberikan akses pengembangan pengetahuan dan keterampilan, dukungan teknis, dan hibah yang difasilitasi FAO. Program ini juga mengadopsi pendekatan berorientasi bisnis untuk menghubungkan penerima hibah dengan pasar potensial dan sektor swasta guna memperbesar skala dan dampak inisiatif mereka. Organisasi masyarakat sipil dapat mengajukan proposal mulai Juni 2026. Selama periode 2026-2029, GEF SGP OP8 bertujuan mendukung lebih dari 14.000 penerima manfaat, termasuk 7.200 perempuan, 2.300 pemuda, dan 2.300 penyandang disabilitas. Untuk memastikan inklusi, program menetapkan target minimal 30% hibah untuk perempuan atau kelompok pimpinan perempuan, 10% untuk kaum muda, dan 5% untuk Masyarakat Adat.

Proyek-proyek yang didanai diharapkan membantu restorasi 6.400 hektar lahan, meningkatkan praktik pengelolaan di 110.000 hektar landscape dan 8.000 hektar bentang laut, serta mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 640.000 CO2e. Untuk memastikan proses seleksi dan implementasi yang adil, inklusif, dan transparan, FAO dan YBUL menunjuk 11 anggota Komite Pengarah Nasional dari masyarakat sipil, pemerintah Indonesia, dan sektor swasta. Laksmi Dhewanthi, anggota komite mewakili Kementerian Lingkungan Hidup, menekankan bahwa momentum ini tepat untuk mengatasi tiga krisis planet melalui slogan “aksi lokal, dampak global”.

 

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 14 May, 2026

Leave a Reply