PALU, beritapalu.ID | Malam itu, aroma santan menguar dari balik lipatan daun pisang yang tersusun rapi di atas nampan-nampan. Di dalam Masjid At-Tauhid, Kelurahan Kayumalue Ngapa, Kota Palu, puluhan warga duduk bersila di atas karpet hijau, bahu-membahu, piring-piring kecil berjajar di hadapan mereka. Di luar, tawa anak-anak bersahutan, tangan-tangan kecil berebut burasa yang sengaja digantung di halaman masjid. Inilah Lebaran Burasa — sebuah tradisi sederhana yang lahir dari luka, namun tumbuh menjadi perayaan yang sepenuh hati, Jumat (28/3/2026) malam.
Delapan tahun lalu, Kayumalue Ngapa adalah salah satu wilayah yang poranda dihantam gempa, tsunami, dan likuefaksi yang mengguncang Kota Palu pada 28 September 2018. Rumah-rumah lenyap, tanah bergerak, dan warga terpencar mencari tempat aman. Namun di tengah trauma dan kehilangan itu, sekelompok warga yang kemudian menyebut diri mereka komunitas penyintas justru memilih untuk tidak larut dalam duka. Mereka berkumpul, bukan untuk mengeluh, melainkan untuk mengikat kembali tali persaudaraan yang sempat tercerai oleh bencana.
Saat Idul Fitri pertama tiba setelah bencana, suasana terasa berat. Tidak ada rumah yang cukup lapang untuk berkumpul, tidak ada ketupat yang biasa menghiasi meja makan seperti tahun-tahun sebelumnya. Warga RW 3 Kayumalue Ngapa pun berinisiatif membuat burasa bersama — penganan khas berbahan beras yang dikukus dengan santan, dibungkus daun pisang, lalu dimasak hingga matang. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Burasa adalah makanan yang melekat erat dalam keseharian mereka, warisan rasa yang melampaui batas usia dan generasi.
“Waktu itu kita semua masih di pengungsian. Tapi saat Lebaran, kita ingin tetap merayakannya, meskipun sesederhana apa pun. Dari situ lahir ide untuk bikin burasa bersama, makan bersama. Lama-lama jadi tradisi,” tutur Muh Nur, warga sekaligus Ketua Panitia Lebaran Burasa tahun ini. Dari kebersamaan itulah istilah “Lebaran Burasa” lahir — merayakan kemenangan Idul Fitri bukan dengan kemewahan, melainkan dengan keikhlasan berbagi sepiring burasa bersama tetangga.
Yang menarik, tradisi ini tidak digelar tepat pada hari raya Idul Fitri, melainkan pada 8 Syawal — tujuh hari setelah Lebaran. Bagi warga Kayumalue Ngapa, waktu itu terasa pas. Ketika di tempat lain suasana Lebaran mulai mereda dan tamu-tamu sudah berpamitan pulang, di sini justru sebaliknya — warga sengaja mengumpulkan diri kembali, seolah ingin memperpanjang kehangatan yang sempat terputus oleh bencana delapan tahun lalu.
Masjid At-Tauhid yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan ini pun menyimpan cerita tersendiri. Bangunan sederhana itu dibangun oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) pasca-bencana, sebagai bagian dari upaya pemulihan komunitas. Kini masjid itu bukan sekadar tempat ibadah — ia adalah rumah bersama, saksi bisu perjalanan komunitas penyintas yang bangkit dari nol.
Rangkaian acara Lebaran Burasa malam itu berlangsung hangat dan khidmat. Diawali dengan laporan panitia, dilanjutkan sambutan Lurah Kayumalue Ngapa, Madawarni, kemudian tausiah yang menyentuh hati, sebelum akhirnya semua larut dalam momen yang paling ditunggu — menyantap burasa bersama. Di atas karpet hijau yang membentang memenuhi ruangan masjid, warga duduk berhadap-hadapan. Nampan-nampan berisi burasa hadir berdampingan dengan kari ayam, daging, ikan, dan beragam lauk lainnya. Tidak ada batas kaya-miskin, tua-muda — semua duduk setara dalam satu hamparan.
Sementara di dalam masjid terasa khidmat, suasana di halaman justru riuh dan meriah. Sekelompok anak-anak dan orang dewasa bersorak berebut burasa yang sengaja digantung — sebuah permainan yang menjadi daya tarik tersendiri dalam tradisi ini. Tangan-tangan teracung ke atas, wajah-wajah berbinar, dan tawa yang meledak setiap kali ada yang berhasil meraih bungkusan daun pisang itu. Sesederhana itu, namun mampu menciptakan kebahagiaan yang tulus.
Tradisi ini kini memasuki tahun ke-8. Bukan lagi sekadar kegiatan warga RW 3, Lebaran Burasa telah menjadi penanda identitas komunitas Kayumalue Ngapa — bukti bahwa dari bencana pun, manusia bisa menciptakan sesuatu yang indah dan bermakna. Lurah Madawarni menyebut tradisi ini sebagai warisan yang patut dijaga. Bukan karena seremonialnya, tapi karena nilai yang ada di baliknya: gotong royong, solidaritas, dan rasa syukur yang diungkapkan bukan lewat kata-kata, melainkan lewat sepiring burasa yang dibuat dan disantap bersama-sama.
Di kota yang pernah diuji oleh bencana besar, Kayumalue Ngapa mengajarkan satu hal yang sederhana namun sering terlupakan: bahwa kebersamaan adalah cara paling manusiawi untuk bertahan — dan burasa, adalah bahasa persaudaraan mereka.
View this post on Instagram
pojokPALU
pojokSIGI
pojokPOSO
pojokDONGGALA
pojokSULTENG
bisnisSULTENG
bmzIMAGES
rindang.ID
Akurat dan Terpecaya