LingkunganTojo Unauna

Tambang Pasir di Touna Diduga Rusak Ekosistem Mangrove

×

Tambang Pasir di Touna Diduga Rusak Ekosistem Mangrove

Share this article
Ilustrasi tanaman mangrove. (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Ilustrasi tanaman mangrove. (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

TOJO UNAUNA, beritapalu.ID | Aktivitas pertambangan pasir yang dilakukan PT Indo Tambang Pasir Utama (ITPU) di Desa Balanggala, Kabupaten Tojo Unauna (Touna), menuai sorotan dari kalangan pemerhati lingkungan karena diduga merusak ekosistem mangrove di wilayah pesisir.

Hersal Febrian, anak muda Touna yang aktif menyuarakan isu lingkungan, mempertanyakan dampak serius pertambangan tersebut terhadap ekosistem mangrove.

PT ITPU diketahui mengantongi Izin Usaha Produksi (IUP) dengan nomor 27072200825840001, dengan luas area konsesi mencapai 24 hektar. Namun, berdasarkan temuan di lapangan, kawasan mangrove yang berada di sekitar pantai dan masuk dalam wilayah konsesi perusahaan disebut ikut diratakan akibat aktivitas tambang.

Menurut Hersal, kondisi ini patut menjadi perhatian serius, terutama di tengah gencarnya pemerintah mendorong perlindungan ekosistem mangrove secara nasional. Ia mempertanyakan sejauh mana pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tojo Unauna.

“Apakah DLH mengetahui bahwa negara saat ini sedang gencar menyuarakan Gerakan Nasional Perlindungan Ekosistem Mangrove sebagai implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove?” ujar Hersal.

Ia menyoroti sikap perusahaan yang dinilai abai terhadap fungsi vital mangrove. Menurutnya, mangrove bukan sekadar vegetasi pesisir, melainkan benteng alami yang berperan penting dalam mencegah abrasi, meredam badai, serta mengurangi dampak perubahan iklim.

“Apakah perusahaan menyadari bahwa mangrove adalah penyangga abrasi, badai, dan perubahan iklim? Lalu bagaimana jaminan perusahaan agar kerusakan ini tidak meluas ke wilayah pesisir lainnya?” lanjutnya.

Hersal mempertanyakan bagaimana PT ITPU dapat menjelaskan praktik pertambangan tersebut di tengah krisis iklim global dan komitmen nasional Indonesia dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Sorotan ini muncul beriringan dengan langkah pemerintah pusat yang terus memperkuat komitmen perlindungan mangrove. Baru-baru ini, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar kegiatan penanaman mangrove bersama masyarakat pesisir yang dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia sebagai simbol penguatan Gerakan Nasional Perlindungan Ekosistem Mangrove sekaligus implementasi nyata PP Nomor 27 Tahun 2025.

Hersal menilai, apa yang terjadi di Desa Balanggala justru bertolak belakang dengan semangat kebijakan nasional tersebut. Ia mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap izin dan aktivitas pertambangan pasir di kawasan pesisir Tojo Una-Una, serta transparansi dari perusahaan dan DLH terkait upaya perlindungan lingkungan.

“Jangan sampai komitmen nasional hanya menjadi slogan, sementara di daerah kerusakan mangrove terus terjadi tanpa pengawasan yang tegas,” pungkasnya.

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 20 January, 2026
Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan (Fahutan) Untad, Rabu (22/04/2026). (©ROA Sulteng)
Lingkungan

Hasil kajian ekosistem mangrove di kawasan Oncone Raya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, di mana dari luas sekitar 31,44 hektar, hanya sekitar 18,7% yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3% telah beralih menjadi tambak dan 31% merupakan areal terbuka.