KomunitasPaluSeni Budaya

IJTI Sulteng Himpun Rp30 Juta untuk Korban Bencana Sumatera

×

IJTI Sulteng Himpun Rp30 Juta untuk Korban Bencana Sumatera

Share this article
Penyerahan donasi untuk Korban Bencana Sumatera pada Charity for Sumatera di Palu, Kamis (11/12/2025). (@IJTI Sulteng)
Penyerahan donasi untuk Korban Bencana Sumatera pada Charity for Sumatera di Palu, Kamis (11/12/2025). (@IJTI Sulteng)

PALU, beritapalu.ID | Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tengah bersama Bateman Production berhasil menghimpun donasi sebesar Rp30.097.000 melalui acara “Charity for Sumatera” yang digelar di Kota Palu. Penggalangan dana ini ditujukan untuk membantu korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Kegiatan mendapat respons positif dari berbagai kalangan, termasuk kepolisian dan komunitas jurnalis. Kapolda dan Wakapolda Sulteng masing-masing menyumbang Rp10 juta, jurnalis senior Tameme Rp5 juta, dan Andi Attas, pemilik Deadline News, Rp1 juta. Kotak donasi yang diedarkan menambah Rp1.097.000.

Steve Oy dari Bateman Production mengapresiasi solidaritas yang terbangun dalam kegiatan ini. Ia menyebut situasi yang dialami warga Sumatera mengingatkan pada bencana yang menimpa Palu tahun 2018.

Ketua Panitia Rizki Budiman mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Palu, para donatur, dan musisi lokal yang memeriahkan acara. Ia menegaskan semangat kebersamaan yang kuat tercipta dalam kegiatan amal tersebut.

IJTI Sulteng dan Bateman Production memastikan seluruh donasi akan disalurkan langsung kepada korban di wilayah terdampak. Kegiatan ini tidak hanya momentum penggalangan dana, tetapi juga penguatan empati dan kolaborasi antara jurnalis, institusi, pelaku industri kreatif, dan masyarakat dalam membantu sesama yang tertimpa musibah.

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 12 December, 2025
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.