Foto

Aksi Kamisan ke-74: Krisis Pangan = Krisis Demokrasi

×

Aksi Kamisan ke-74: Krisis Pangan = Krisis Demokrasi

Share this article
Aktivis berorasi pada Aksi Kamisan ke-74 di depan Kampus Untad, Kamis (23/10/2025). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Aktivis berorasi pada Aksi Kamisan ke-74 di depan Kampus Untad, Kamis (23/10/2025). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by beritapalu.ID (@beritapalu_id)

PALU, beritapalu.ID | Aksi Kamisan ke-74 kembali digelar di depan kampus Universitas Tadulako (UNTAD), Palu. Di bawah payung hitam bertuliskan #AksiKamisan, para peserta berdiri menyuarakan keresahan yang tak kunjung reda: krisis pangan yang semakin nyata dan demokrasi yang semakin jauh dari rakyat.

Tema aksi kali ini, “Krisis Pangan = Krisis Demokrasi”, bukan sekadar retorika. Ia lahir dari kenyataan bahwa jutaan anak Indonesia masih kekurangan gizi, sementara kebijakan pangan lebih banyak melayani korporasi dan kepentingan elite. “Kita bukan hanya menuntut pemenuhan gizi untuk anak,” ujar salah satu orator, “kita menuntut kedaulatan pangan rakyat, kita menuntut demokrasi yang sesungguhnya, bukan demokrasi boneka yang melayani perampok.”

Aksi berlangsung damai namun penuh makna. Dengan mikrofon sederhana dan pengeras suara di tengah jalan, suara-suara muda menggema di ruang publik yang sering kali dibungkam. Mereka membawa poster, selebaran, dan harapan: agar negara hadir bukan sebagai penonton, tapi sebagai pelindung hak-hak dasar rakyat.

Aksi Kamisan di Palu telah menjadi ruang konsisten bagi warga sipil untuk mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya soal pemilu, tapi soal akses, keadilan, dan keberpihakan. Di tengah pusaran pembangunan dan janji politik, mereka berdiri tegak—menolak lupa, menolak lapar, dan menolak tunduk. (bmz)

#AksiKamisan #KrisisPangan #DemokrasiSejati #KedaulatanPangan #UNTAD #PaluBergerak #KamisUntukKeadilan #SulawesiTengah

 

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 26 October, 2025
Untuk update berita di beritapalu.id, ikuti saluran kami di sini: Saluran WhatsApp
Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.