SIGI, beritapalu.ID | Karnaval Rohani mewarnai jalanan Palu dan Sigi pada Sabtu (25/4/2026) sore. Di Lapangan GKST Imanuel Palu dan Taman Likuifaksi Biromaru, ratusan peserta sudah bersiap dengan kostum dan properti unik.
Ada yang mengenakan jubah layaknya tokoh Alkitab, ada yang membawa replika bahtera Nuh, bahkan ada yang menampilkan adegan dramatis kejatuhan manusia. Ini adalah karnaval rohani yang menceritakan seluruh alur Alkitab, dari halaman pertama hingga terakhir.
Perayaan Paskah Nasional ke-5 yang dipusatkan di Kabupaten Sigi menghadirkan nuansa berbeda tahun ini. Karnaval ini menampilkan perjalanan visual melalui kisah iman yang membentang ribuan tahun—mulai dari penciptaan, kisah para nabi, kelahiran Yesus, hingga peristiwa Pentakosta.
“Di Palu dan Sigi, kami mengemasnya dalam bentuk cerita Alkitab secara utuh. Dimulai dari kisah penciptaan, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia, kisah para nabi, masuk ke Perjanjian Baru tentang kelahiran Tuhan Yesus, karya-Nya bersama murid-murid, hingga kematian, kebangkitan, kenaikan ke surga, dan ditutup dengan peristiwa Pentakosta,” jelas Pendeta Fany Madayanto, Sabtu (25/4/2026).
Konsep ini berbeda dari karnaval Paskah di daerah lain yang umumnya hanya menampilkan kisah penyaliban dan kebangkitan. Kali ini, panitia ingin menyajikan narasi besar yang utuh, menunjukkan bahwa setiap peristiwa dalam Alkitab saling terhubung dalam satu alur besar.
Antusiasme peserta cukup tinggi. Tercatat sekitar 18 hingga 20 gereja, lembaga, dan sekolah turut ambil bagian, baik dari Kota Palu maupun Kabupaten Sigi. Khusus dari Sigi, ada sembilan gereja yang berpartisipasi, sementara dari Palu sekitar 20 gereja meramaikan iring-iringan.
Setiap peserta menampilkan cerita berbeda dalam bentuk atraksi kreatif sepanjang rute karnaval. Ada yang membawa panggung berjalan dengan adegan hidup, ada yang menggunakan koreografi tari, ada pula yang memanfaatkan teknologi sederhana untuk menciptakan efek dramatis. Semua bergerak menuju titik kumpul di Markas Komando Batalyon A Satuan Brimob Polda Sulawesi Tengah, Desa Loru, Kecamatan Biromaru.
“Ini juga menjadi bentuk kesaksian kepada masyarakat, sehingga mereka dapat memahami bahwa cerita Alkitab memiliki alur yang utuh dan berkesinambungan,” tambah Pendeta Fany.
Panitia tidak main-main dalam penilaian. Delapan aras gereja ditugaskan sebagai juri untuk menilai peserta terbaik berdasarkan kreativitas, penguatan nilai rohani, serta penyampaian cerita. Juara satu hingga tiga akan mendapat apresiasi khusus.
“Penilaian dilakukan oleh delapan aras gereja, sehingga hasilnya diharapkan objektif dan mencerminkan kualitas penampilan masing-masing peserta,” ujarnya.
Karnaval Rohani ini menjadi yang pertama digelar dengan konsep naratif lengkap dalam rangka menyukseskan Paskah Nasional ke-5 yang dipusatkan di Kabupaten Sigi. Lebih dari sekadar perayaan, ini adalah upaya komunitas Kristen di Sulawesi Tengah untuk menghadirkan iman dalam bentuk yang bisa dilihat, dirasakan, dan dipahami oleh siapa saja yang menyaksikan.
Pendeta Fany berharap, kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan dengan partisipasi yang lebih luas. “Kita ingin ini menjadi tradisi yang terus berkembang, melibatkan lebih banyak gereja dan lembaga, serta menjadi momen kebersamaan yang memperkuat iman,” pungkasnya.
View this post on Instagram





