
SIGI, beritapalu.id | Matahari baru saja menyembul di balik perbukitan Kulawi saat Eva Christianti bergegas menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Dengan tangan yang terlatih, perempuan berusia 32 tahun ini menyiapkan bekal untuk suaminya yang hendak berangkat ke kebun. Begitu urusan domestik kelar, Eva tidak berdiam diri. Ia menyampirkan tas anyaman di pundaknya dan bergabung dengan belasan perempuan desa lainnya. Tujuan mereka sama: menuju pampa.
Pampa: Urat Nadi Pangan Keluarga
Dalam kearifan lokal masyarakat adat Kulawi, pampa adalah hamparan lahan perkebunan atau pekarangan yang cenderung datar dan terletak tidak jauh dari permukiman. Di atas tanah ini, jemari masyarakat adat menanam beragam jenis hortikultura—dari sayur-mayur, ubi-ubian, jagung, hingga rica dan bumbu dapur lainnya.
Pampa bukan sekadar lahan garap. Ia adalah urat nadi pangan keluarga, sumber ketahanan hidup yang terjalin erat dengan ritme musim dan kerja tangan penuh dedikasi.
Pagi itu, di Dusun 1 Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, aroma tanah basah berpadu dengan riuh tawa belasan perempuan. Langkah kaki mereka mantap menyusuri kawasan bernama Wawo. Di sana, membentang lahan seluas kurang lebih satu hektar—sebuah hemoglobin hijau yang menolak ditidurkan, menjadi saksi bisu perjuangan perempuan adat dalam merawat ketahanan pangan desa.

Tanah Pinjaman, Hasil Bersama
Hal yang menarik: tanah itu bukanlah milik pribadi mereka. Lahan tersebut adalah tanah pinjaman yang diserahkan secara sukarela oleh warga desa untuk digunakan dan diolah bersama-sama.
Di bawah pengelolaan Kelompok Tani Perempuan Tobine Mohintuwu, lahan pinjaman ini bertransformasi menjadi sumber kehidupan yang mandiri. Nama kelompok sendiri mengandung makna mendalam: Tobine Mohintuwu berarti “bersama-sama membangun hari esok yang lebih baik” dalam bahasa lokal.
“Kebersamaan dan sukacita itu yang paling terasa karena semua bisa dilakukan bersama-sama,” ungkap Magdalena (37), salah satu anggota kelompok, sambil menyeka keringat di dahinya. Kata-katanya sederhana, tetapi penuh makna—mencerminkan filosofi komunal yang telah akar dalam dalam kehidupan masyarakat adat.

Tiga Tahun Bertahan, Merawat Kemandirian
Kelompok Tani Tobine Mohintuwu kini telah menginjak usia tiga tahun. Beranggotakan 18 orang perempuan adat, kelompok ini memegang kendali penuh atas operasional pertanian di pampa Wawo.
Dari proses awal pembersihan lahan yang menguras keringat, penanaman benih, pemupukan, menyiangi rumput liar, perawatan rutin, hingga masa panen dan penjualan—semuanya dikerjakan secara mandiri oleh tangan-tangan tangguh para perempuan ini. Tidak ada yang disewa, tidak ada yang dikerjakan oleh pihak ketiga.
Tahun 2026 adalah kali ketiga kelompok ini mengolah tanah menjadi perkebunan jagung. Sebagian besar lahan kini telah menghijau, dipenuhi hamparan tanaman jagung yang sudah berumur satu bulan. Bagi mereka, berpeluh di bawah terik matahari kebun bukanlah beban yang menjemukan.
Gotong Royong sebagai Cara Hidup
Di sela-sela merawat tanaman, mereka mempraktikkan mome ala pale—sebuah tradisi gotong royong warisan leluhur yang terus hidup subur di kebun mereka. Tradisi ini tidak hanya terapkan di lahan bersama kelompok, melainkan juga terbawa saat mereka saling bantu mengolah kebun pribadi masing-masing anggota.
Setiap keputusan besar, seperti menentukan jenis tanaman apa yang akan ditanam pada musim berikutnya, selalu diambil berdasarkan kesepakatan bersama melalui musyawarah. Pampa bagi Tobine Mohintuwu telah bergerak lebih jauh dari sekadar tempat mencangkul.
Kelompok ini telah menjelma menjadi ruang aman bagi perempuan adat untuk bersuara, berdiskusi, dan mengelola berbagai persoalan sosial yang terjadi di dalam desa mereka. Itulah kekuatan pengelompokan yang didampingi oleh komunitas penggerak di lapangan dengan program penguatan kapasitas yang berkelanjutan.

Koperasi dan Sistem Kemandirian Finansial
Kemandirian ekonomi kelompok ini ditopang oleh fondasi keuangan yang mereka bangun sendiri dari bawah. Modal untuk membeli benih dan pupuk murni berasal dari kas kelompok serta perputaran uang simpan pinjam.
Setiap minggu terakhir di bulan berjalan, kelompok menggelar pertemuan bulanan dengan agenda utama: membahas perkembangan unit koperasi kecil mereka dan urusan simpan pinjam. Manfaat nyata dari sistem ini dirasakan langsung oleh setiap anggotanya.
Ketika Koperasi Menjadi Penyelamat
Magdalena pernah meminjam uang dari koperasi kelompok hampir sebesar 3 juta rupiah. Uang itu menjadi penyelamat saat ia sangat membutuhkannya untuk membiayai kebutuhan sekolah anak-anaknya.
Bahkan, Kepala Desa Lonca sendiri, Yarni Idjo, yang juga merupakan anggota kelompok Tobine Mohintuwu, merasakan langsung manfaat dana darurat ini.
“Bulan lalu saya sempat meminjam uang dari dana kelompok ini, jumlahnya 5 juta rupiah,” kata Yarni saat ditemui. Dalam aturan kelompok yang disiplin, pinjaman tersebut harus dilunasi dalam jangka waktu enam bulan dengan bunga ringan sebesar 2 persen.
Dalam setahun, anggota kelompok diberi kesempatan meminjam dana sebanyak dua kali jika ada kebutuhan mendesak, terutama untuk urusan pendidikan anak. Bagi para ibu seperti Eva Christianti yang membesarkan tiga anak, serta Elna Karehi yang merawat anak tunggalnya yang berumur 7 tahun, kelompok tani adalah bantalan ekonomi yang nyata di saat mendesak.

“Anugerah”: Tabungan Bersama untuk Masa Depan
Tidak hanya koperasi, Tobine Mohintuwu juga mengelola gerakan menabung bersama yang mereka beri nama “Anugerah”. Sistem tabungan ini memiliki aturan yang disiplin: uang tabungan baru bisa ditarik setahun sekali.
Biasanya, para anggota mencairkan tabungan ini menjelang hari raya Natal atau saat tahun ajaran baru sekolah dimulai. Strategi ini memastikan kebutuhan keluarga tetap terjamin tanpa jeratan utang yang berkelanjutan.
Kebijakan Desa yang Sejalan
Gerakan akar rumput yang digerakkan oleh para perempuan adat di Desa Lonca tidak berjalan dalam kesendirian. Pergerakan ini beriringan dengan kebijakan Pemerintah Desa yang komitmen terhadap ketahanan pangan.
Kepala Desa Lonca, Yarni Idjo, menegaskan komitmennya dengan tindakan nyata. Untuk tahun anggaran 2026, Pemerintah Desa Lonca mengalokasikan Dana Desa untuk program ketahanan pangan yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kebijakan ini didukung penuh oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang bertindak sebagai lembaga adat, diketuai oleh Agus Muju.
“Untuk tahun 2026 ini, anggaran fisik memang ditiadakan,” jelas Yarni. Pemerintah desa memilih memfokuskan sisa anggaran untuk sektor penguatan kapasitas, ketahanan pangan, dan insentif kemasyarakatan—seperti pengadaan kuota honorarium bagi petugas PAUD, Karang Taruna, hingga petugas pengelola air bersih desa.
Desa Lonca menyiapkan lahan desa seluas 1 hektar khusus untuk program ketahanan pangan mandiri dengan anggaran sekitar 100-an juta rupiah. Anggaran ini membiayai seluruh rangkaian pengolahan dari awal hingga masa panen tiba.
Rasionalisasi anggaran desa memang signifikan: jika pada tahun 2025 Desa Lonca menerima pagu anggaran sebesar 800-an juta rupiah, pada tahun 2026 desa memperoleh alokasi dana sebesar 369 juta rupiah. Meski terbatas, alokasi ini dimaksimalkan seluruhnya untuk ketahanan masyarakat.
Anyaman Wara: Menjaga Tradisi di Usia Senja
Semangat menjaga kemandirian di Desa Lonca tidak berhenti di sektor pertanian jagung. Di sudut lain desa, tradisi kerajinan tangan berbahan dasar alam tetap tegak berdiri melalui skema Perhutanan Sosial.
Sebanyak 16 orang warga desa berkumpul dan tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Di kelompok ini, sosok yang paling senior adalah Martin N, seorang pria berusia 69 tahun yang terampil membuat anyaman kerajinan bambu tradisional.

Tangan yang Masih Cekatan
Di usianya yang senja, tangan Martin masih sangat cekatan membelah bambu untuk dijadikan bakul serta wara—sebutan dalam bahasa daerah Lonca untuk penapih atau tapis beras dari bambu.
Proses pembuatannya membutuhkan presisi tinggi yang hanya bisa dikuasai melalui pengalaman bertahun-tahun. Menurut Pak Martin, sebatang pohon bambu utuh biasanya bisa diolah dan menghasilkan sekitar satu setengah hingga dua buah penapih beras berkualitas.
Bahan baku utamanya menggunakan ihinya—istilah dalam bahasa Uma untuk menyebut bagian kulit luar bambu yang kuat—serta rotan alami sebagai pengikat dan penguat tepian anyaman. Setiap langkah memerlukan keahlian dan konsentrasi penuh.
Warisan yang Diwariskan
Martin, yang di kehidupan sehari-harinya juga menyambung hidup sebagai petani getah pinus, pekebun kakao, dan petani jagung, berhasil menghidupi tiga orang anaknya lewat hasil bumi dan anyaman ini. Salah satu anaknya kini telah berhasil menjadi seorang pendeta—bukti bahwa kerajinan tradisional yang diwariskan Martin mampu membuka pintu kesempatan.
Agar keahlian bernilai tinggi ini tidak punah ditelan zaman, Martin secara konsisten menurunkan pengetahuannya dengan mengajarkan langsung cara menganyam bambu tradisional kepada anak-anak generasi muda di desanya. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Akar Panjang Kemandirian Komunal
Kesadaran warga Desa Lonca untuk berkelompok dan membangun ekonomi mandiri sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang. Jauh di awal tahun 1990-an, ingatan kolektif warga mencatat kehadiran Koperasi Efrata—sebuah upaya ekonomi kolektif yang lahir ketika desa ini menerima program IDT (Inpres Desa Tertinggal).
Semangat gotong royong dari era itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tidur, menunggu momen untuk lahir kembali dalam bentuk yang lebih inklusif, lebih terorganisir, lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Pesan dari Pedalaman Kulawi
Melalui hamparan hijau kebun jagung pampa yang dirawat Kelompok Tobine Mohintuwu, kegigihan para ibu yang tidak kenal lelah, kebijakan ketahanan pangan desa yang terukur, hingga kelestarian anyaman wara yang menjadi pelindung tradisi—Desa Lonca sedang mengirimkan pesan penting dari pedalaman Kulawi.
Pesan itu sederhana namun mendalam: ketahanan pangan dan kedaulatan sebuah komunitas sejati selalu bermula dari rasa kebersamaan yang dipupuk dengan penuh sukacita di atas tanah mereka sendiri. Tidak dari donor luar. Tidak dari kebijakan top-down tanpa akar lokal. Melainkan dari kerelaan berbagi, dari tangan yang saling membantu, dari suara yang setara dalam musyawarah.
Di saat ketika banyak komunitas pedesaan goyah menghadapi arus perubahan, Desa Lonca memberikan contoh berbeda. Di sini, tradisi tidak ditolak; ia diintegrasikan dengan inovasi. Kemandirian tidak dipaksakan dari atas; ia dibangun dari bawah dengan kesadaran kolektif yang matang.
Eva, Magdalena, Martin, Yarni, dan belasan lainnya tidak sedang menginginkan “kembali ke masa lalu” yang romantis. Mereka sedang membangun masa depan yang berkelanjutan, dengan mengambil hikmah dari warisan leluhur, sambil merangkul peluang-peluang baru yang memberdayakan.
Itulah kedaulatan yang sesungguhnya: bukan milik pribadi, melainkan kemandirian kolektif yang dibangun atas tanah—baik milik pribadi maupun pinjaman—dengan tangan sendiri dan kerelaan hati. (wan)











