PALU, beritapalu.id | Bangunan bekas Lingkungan Industri Kecil (LIK) Roviga di Tondo Palu itu sudah lama kehilangan fungsi. Dinding-dinding kusam dipenuhi coretan lama, sebagian ruang kosong tanpa aktivitas, sementara lantainya menyimpan jejak bangunan yang ditinggalkan. Namun pada Sabtu (6/6/2026), ruang yang terbengkalai itu kembali hidup. Suara semprotan cat, percakapan para seniman, dan musik yang mengalun pelan menggantikan kesunyian yang selama ini melekat pada bangunan milik pemerintah tersebut.
Belasan peserta dari berbagai komunitas dan latar belakang berkumpul dalam Palu Mural Festival 2026. Mereka mengubah dinding, panel kayu, hingga sudut-sudut bangunan menjadi media ekspresi. Ada yang bekerja sendiri, ada pula yang berkolaborasi, membiarkan ide berkembang mengikuti ruang dan percakapan yang terjadi selama festival berlangsung.
Menariknya, Palu Mural Festival bukanlah peristiwa yang harus dipahami melalui satu sudut pandang atau narasi tunggal. Festival diposisikan sebagai ruang hidup yang tumbuh dari banyak percakapan, banyak suara, banyak tafsir, dan banyak kemungkinan pembacaan.
Karena itu, pengunjung yang datang tidak disuguhi tema besar yang mengarahkan bagaimana karya harus dimaknai. Setiap mural berdiri dengan ceritanya sendiri. Sebagian berbicara tentang identitas, sebagian tentang keresahan, sebagian lagi lahir dari kebebasan bermain bentuk, warna, dan imajinasi. Tidak ada upaya menyeragamkan cara orang membaca karya-karya tersebut.
Di sela aktivitas melukis, para seniman berbagi ruang dengan warga, pegiat seni, fotografer, musisi, dan pengunjung yang datang silih berganti. Interaksi kecil yang terjadi di antara mereka menjadi bagian penting festival. Yang ingin direkam bukan hanya hasil akhir berupa mural, melainkan juga suasana, perjumpaan, dan energi kolektif yang terbentuk selama kegiatan berlangsung.
Di balik pelaksanaannya, festival ini tumbuh dengan cara yang sederhana. Komunitas penyelenggara menggalang dukungan melalui penjualan kaus, publikasi karya, dan berbagai bentuk urun daya dari publik. Keterbatasan akses terhadap sponsor besar maupun dukungan industri kreatif di Palu membuat pendekatan tersebut dipilih sebagai jalan yang paling memungkinkan. Bagi mereka, setiap dukungan yang diberikan masyarakat menjadi bentuk kepercayaan bahwa seniman lokal layak memiliki ruang untuk berkarya dan berkembang.
Pemilihan LIK Roviga sebagai lokasi sekaligus menjadi simbol dari semangat itu. Bangunan yang lama terbengkalai mendapat fungsi baru sebagai ruang bertemunya gagasan dan kreativitas. Melalui Palu Mural Festival 2026, komunitas seni jalanan di Palu menunjukkan bahwa ruang yang terlupakan dapat dihidupkan kembali, dan bahwa sebuah festival dapat tumbuh dari solidaritas warga tanpa kehilangan kebebasan untuk menyuarakan beragam perspektif.











