FeatureFotoLingkunganPaluPemkot Palu

Kamboti dan Berkah: Idul Adha Menjadi Gerakan Ramah Lingkungan di Palu

×

Kamboti dan Berkah: Idul Adha Menjadi Gerakan Ramah Lingkungan di Palu

Share this article

Dinas Lingkungan Hidup Palu Buktikan bahwa Berbagi Berkah Bisa Ramah Lingkungan

Petugas menata daging kurban yang dikemas dengan kamboti di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Petugas menata daging kurban yang dikemas dengan kamboti di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.id | Kamis pagi di halaman Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, suasana berbeda terasa dari biasanya. Bukan hanya karena meriah—daging kurban telah tersedia untuk didistribusikan kepada ratusan tenaga kebersihan dan warga sekitar. Namun, yang membuat perbedaan nyata adalah pilihan wadah yang digunakan: bukan plastik yang menggunung, melainkan Kamboti—keranjang kecil tradisional yang terbuat dari saun silar.

Mohammad Arif Lamakarate, Kepala DLH Kota Palu, memandangi ratusan Kamboti yang siap berisi daging kurban dengan senyuman yang menunjukkan kepuasan. Di tangannya adalah bukti nyata dari sebuah perjalanan tiga tahun yang penuh dengan tantangan, kompromi, dan pada akhirnya, kepercayaan diri untuk mengubah cara Kota Palu merayakan Idul Adha.

“Tiga tahun lalu, ketika kami pertama kali memutuskan menggunakan Kamboti, banyak yang skeptis,” cerita Arif dengan nada yang reflektif.

“Tapi kami yakin bahwa sesuatu yang baik harus dimulai dari tempat kecil, dari institusi kami sendiri,” kata Mohammad Arif didampingi Sekretaris DLH Kota Palu Ibnu Mundzir dan Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Hisyam Baba.

Kepala DLH Kota Palu Mohammad Arif Lamakarate (kedua kanan) bersama Sekretaris DLH Ibnu Mundzir (kedua kiri) dan Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Hisyam Baba (kiri) menyerahkan daging kurban yang dikemas dengan Kamboti kepada warga di Kantor DLH Kota Palu, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Kepala DLH Kota Palu Mohammad Arif Lamakarate (kedua kanan) bersama Sekretaris DLH Ibnu Mundzir (kedua kiri) dan Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Hisyam Baba (kiri) menyerahkan daging kurban yang dikemas dengan Kamboti kepada warga di Kantor DLH Kota Palu, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Dari Skeptisisme Menuju Kepercayaan

Perjalanan Eco Kurban DLH Palu dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana namun fundamental: mengapa tradisi berbagi berkah harus meninggalkan jejak sampah plastik yang besar? Pertanyaan itu cukup untuk mendorong sebuah lembaga yang sudah seharusnya menjadi pelopor keberlanjutan lingkungan untuk bertindak.

Tantangan pertama yang mereka hadapi bukanlah soal prinsip, melainkan soal praktis. Harga. Kamboti, dengan kualitas dan keawetannya, tentu memiliki harga yang lebih tinggi dibanding kantong plastik sekali pakai. Arif membuka pikirannya tentang hal ini dengan jujur dan tanpa defensif.

“Memang, jika kita hanya melihat transaksi per hari, Kamboti jauh lebih mahal,” akunya.

“Tetapi jika kita melihat dari perspektif penggunaan berulang selama bertahun-tahun, nilai ekonomisnya sebenarnya lebih menguntungkan. Dan yang terpenting, lingkungan kita tidak harus mengorbankan jutaan ton plastik hanya untuk satu hari perayaan.”

Logika itu sederhana namun powerful. Ia mengubah narasi dari “mahal” menjadi “investasi jangka panjang.” Dan dari situ, momentum mulai bergerak.

Petugas menata daging kurban yang dikemas dengan kamboti di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Petugas menata daging kurban yang dikemas dengan kamboti di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Surat Edaran yang Mengubah Permainan

Tahun ini, ada yang berbeda. DLH Kota Palu tidak lagi sendirian dalam misi ini. Pemerintah Kota Palu menerbitkan Surat Edaran tentang Eco Kurban yang secara resmi mengimbau semua pihak yang akan mendistribusikan daging kurban untuk menghindari plastik sekali pakai. Langkah ini bukan hanya dukungan simbolis—ini adalah perubahan kebijakan yang sesungguhnya.

“Surat Edaran ini sangat penting,” kata Arif dengan nada yang penuh makna.

“Ini menunjukkan bahwa apa yang kami lakukan bukan hanya gerakan individual DLH, tetapi komitmen kota secara keseluruhan untuk berubah.”

Perubahan kebijakan ini juga membuka peluang yang tak terduga untuk komunitas lokal. UMKM dari Kelurahan Taweni, khususnya mereka yang memiliki keahlian dalam membuat Kamboti, tiba-tiba menemukan pasar yang lebih luas.

Petugas menata daging kurban yang dikemas dengan kamboti di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Petugas menata daging kurban yang dikemas dengan kamboti di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (28/5/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Beranjak Dari Tawaeli

Perjalanan melanjut ke Kelurahan Tawaeli, tempat di mana pengrajin Kamboti bekerja. Di sini, tidak hanya melihat bisnis, tetapi juga sumber penghidupan yang berkelanjutan. Ketika DLH memulai mendukung UMKM lokal untuk produksi Kamboti dalam jumlah besar, ini berarti lapangan kerja bagi keluarga-keluarga yang selama ini berjuang mempertahankan keahlian tradisional mereka.

“Kamboti bukan hanya keranjang,” kata salah seorang pengrajin dengan bangga.

“Ini adalah warisan budaya yang kami jaga. Ketika pemerintah dan DLH mendukung kami, ini berarti budaya kita masih dihargai.”

Kalimat itu menyentuh dimensi yang lebih dalam dari apa yang sebenarnya dilakukan DLH Palu. Ini bukan hanya tentang lingkungan. Ini juga tentang ekonomi lokal, tentang identitas budaya, dan tentang menunjukkan bahwa keberlanjutan harus inklusif—menguntungkan semua pihak.

Tiga Tahun Persiapan untuk Satu Hari Berbagi

Ketika bertanya kepada Arif apa yang paling membanggakan dari inisiatif ini, jawabannya tidak hanya tentang jumlah Kamboti yang digunakan atau plastik yang tidak digunakan.

“Yang paling membanggakan adalah bahwa setiap orang yang terlibat—mulai dari pegawai DLH yang menggalang dana, UMKM yang membuat Kamboti, tenaga kebersihan yang akan menerima daging kurban, bahkan anak-anak mereka yang melihat ada cara berbeda untuk merayakan—semua mereka memahami bahwa ini bukan tentang mengurangi kebahagiaan Idul Adha, tetapi tentang merayakan dengan tanggung jawab.”

Tahun ini, DLH Palu mendistribusikan daging dari sembilan ekor sapi kurban, naik dari lima ekor tahun lalu. Peningkatan ini bukan hanya angka. Ini adalah refleksi dari pertumbuhan kesadaran dan komitmen komunitas terhadap apa yang benar.

Sebuah Pemicu untuk Kota

Ketika meninggalkan halaman DLH Palu dengan ratusan Kamboti yang penuh daging kurban, Arif mengatakan sesuatu yang tetap terngiang: “Ini hanya pemicu. Kami berharap bahwa apa yang kami lakukan hari ini menjadi pemicu bagi semua institusi, semua komunitas, untuk berpikir: bagaimana cara kita merayakan, berbagi, dan berkontribusi tanpa meninggalkan sampah plastik?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun jawabannya, seperti yang dibuktikan DLH Palu, bisa mengubah cara sebuah kota merayakan hari-hari penting.

Di Palu, pada Idul Adha 1447 Hijriah tahun ini, berkah tidak hanya sampai ke tangan yang membutuhkan. Berkah juga sampai ke lingkungan, ke UMKM lokal, dan ke masa depan yang sedikit lebih hijau dari sebelumnya.

Semua itu dimulai dari sebuah keranjang kecil bernama Kamboti.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by beritapalu.ID (@beritapalu_id)

Editor: beritapalu
Penulis: basri marzuki
Tanggal: 28 May, 2026

Leave a Reply