Palu

Wakapolda Sulteng Tekankan Nilai Kebangsaan kepada 72 Siswa SPN

×

Wakapolda Sulteng Tekankan Nilai Kebangsaan kepada 72 Siswa SPN

Share this article
Wakapolda Sulteng, Brigjen Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf pada pembekalan siswa SPN, Rabu (3/9/2025). (©Humas Polda Sulteng)
Wakapolda Sulteng, Brigjen Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf pada pembekalan siswa SPN, Rabu (3/9/2025). (©Humas Polda Sulteng)

PALU, beritapalu.ID | Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Sulawesi Tengah, Brigjen Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, menegaskan pentingnya menanamkan dan menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman Indonesia.

Pesan itu disampaikan kepada 72 siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulteng dalam kegiatan pembekalan di aula SPN, Rabu (3/9/2025).

Wakapolda mengingatkan bahwa perbedaan suku, ras, budaya, dan latar belakang bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi kekuatan yang mempersatukan bangsa.

“Indonesia berdiri kokoh karena keberagaman yang dijaga dengan semangat persatuan,” ujarnya.

Kegiatan yang juga dihadiri para tenaga pendidik (Gadik) ini diisi dengan sesi motivasi, mendorong para siswa untuk terus belajar, berlatih, dan mengabdi sepenuh hati demi bangsa dan negara.

Wakapolda berharap para siswa SPN mampu menerapkan nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari, baik selama pendidikan maupun saat bertugas di lapangan.

“Pegang teguh nilai kebangsaan, disiplin, serta integritas dalam setiap pelaksanaan tugas sebagai insan Bhayangkara,” pesannya. (afd/*)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 4 September, 2025
Ketua Tim PKK Diah Pustpita saat tiba di SMP Al-Azhar Palu, Rabu (6/5/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Imron)
Komunitas

Ketua TP-PKK Kota Palu memberikan edukasi di SMP Al-Azhar yang baru saja dinobatkan sebagai Sekolah Siaga Kependudukan, menghubungkan kedewasaan usia perkawinan dengan pencegahan stunting pada generasi mendatang.

Pengunjung memperhatikan kain kulit kayu yang dipamerkan di Museum Sulteng, Selasa (5/5/2026). (© bmzIMAGES/.Basri Marzuki)
Feature

Selembar kain berwarna cokelat kemerahan tampak sederhana, menyimpan jejak panjang peradaban manusia di Sulawesi Tengah. Kain itu bukan ditenun dari benang, melainkan dipukul, direndam, dan diolah dari kulit kayu—sebuah teknik yang telah hidup sejak masa neolitikum dan masih bertahan hingga hari ini.