KomunitasPaluSeni Budaya

Tolak Bongkar Oprit Jembatan Palu IV, Usulkan Jadi Cagar Budaya Kebencanaan

×

Tolak Bongkar Oprit Jembatan Palu IV, Usulkan Jadi Cagar Budaya Kebencanaan

Share this article
Warga beraktivitas di dekat oprot Jembatan Palu IV, Kampung Lere, Palu, Minggu (18/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Warga beraktivitas di dekat oprot Jembatan Palu IV, Kampung Lere, Palu, Minggu (18/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.ID | Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Palu menginisiasi pertemuan bertajuk “Oprit Ornamen Peringatan Tsunami” di kawasan bekas oprit Jembatan Palu IV, Kelurahan Lere, Minggu (18/1/2026), menolak rencana pembongkaran sisa oprit dan mengusulkan penetapannya sebagai cagar budaya kebencanaan.

Pertemuan dihadiri puluhan warga dari berbagai latar belakang mulai dari akademisi, aktivis lingkungan, sejarawan, jurnalis, seniman, hingga pegiat literasi yang menyatakan sikap tegas bahwa artefak kebencanaan Palu tidak boleh dihancurkan demi estetika pembangunan.

Ketua FPRB Kota Palu M. Ridwan Lapasere menyatakan oprit tersebut adalah saksi bisu tsunami 28 September 2018. Jika hilang, maka satu pengingat penting tentang bencana juga ikut hilang.

Pengamat kebencanaan Universitas Tadulako Drs. Ir. Abdullah, MT, menyayangkan hilangnya oprit sisi timur yang sudah lebih dulu dibongkar. Ia menegaskan sisa pondasi yang ada memiliki nilai historis dan saintifik yang tak tergantikan dan tidak perlu membangun baru, cukup menjaga yang sudah ada dengan penuh kehati-hatian.

Warga, komunitas dan FPRB Kota Palu berdiskusi di tanggul batu gajah yang menolak pembongkaan oprit Jembatan Palu IV dan mengusulkannya sebagai cagar budaya kebencanaan, Minggu Minggu (18/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Warga, komunitas dan FPRB Kota Palu berdiskusi di tanggul batu gajah yang menolak pembongkaan oprit Jembatan Palu IV dan mengusulkannya sebagai cagar budaya kebencanaan, Minggu Minggu (18/1/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Pegiat literasi Neni Muhidin menyoroti konsep Living Museum atau museum hidup, di mana Palu memiliki keunikan dibanding Aceh yang membangun museum khusus. Belajar kebencanaan tidak cukup lewat buku, situs nyata seperti ini memberi pengalaman ruang yang jauh lebih kuat, terutama bagi generasi mendatang.

Peserta diskusi mendesak pemerintah untuk segera memberikan kepastian hukum melalui penetapan Masjid Terapung di Kelurahan Lere dan Oprit Jembatan IV sebagai Cagar Budaya Kebencanaan, mengedukasi pengambil kebijakan untuk tidak melihat artefak ini sebagai sampah konstruksi, serta mengintegrasikan situs-situs di pesisir dan wilayah eks-likuefaksi menjadi peta wisata minat khusus yang dapat menyumbang PAD.

Pertemuan ditutup dengan kesepakatan untuk menyusun policy brief yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah. Gerakan ini juga berencana melakukan aksi nyata di lapangan, mulai dari pemasangan papan informasi, advokasi kebijakan, hingga aksi bersih pantai dan penanaman mangrove.

Pegiat sejarah Jefrianto yang hadir dalam pertemuan menyatakan kehadiran situs ini tidak mengurangi keindahan Teluk Palu, sebaliknya memberikan makna, nilai tambah, dan peringatan bahwa masyarakat hidup berdampingan dengan risiko bencana.

 

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 19 January, 2026
Wali Kota Hadianto bersama Wawali Imelda menyaksikan sampah yang berserak di salah satu titik kunjungan lapangannya di Palu, Kamis (23/4/2026). (©Prokopim Setda Kota Palu/Jufri)
Palu

Wali Kota Palu Hadianto Rasyid menemukan kondisi kebersihan yang masih sama dengan hasil identifikasi sebelumnya, di mana sampah masih berserakan di sejumlah kawasan saat melakukan peninjauan menggunakan sepeda motor di Kecamatan Palu Selatan dan Palu Timur, Kamis (23/4/2026).