SIGI, beritapalu.id | Kemarau yang berkepanjangan membuat debit Sungai Wuno di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terus menyusut. Aliran sungai yang selama ini menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian warga di lima desa itu tak lagi mampu memenuhi kebutuhan air seperti biasanya. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat memilih menempuh cara yang diwariskan leluhur mereka: menggelar kembali ritual adat Morra Keke atau meminta hujan.
Ritual yang berlangsung di Desa Oloboju, Kamis (4/6/2026), mempertemukan masyarakat dari Desa Watunonju, Sidera, Oloboju, Bora, dan Solove. Morra Keke terakhir kali dilaksanakan sekitar tiga dekade lalu dan kini kembali dihidupkan sebagai bentuk ikhtiar bersama menghadapi ancaman kekeringan yang mulai berdampak pada sektor pertanian.
Persiapan ritual dilakukan secara gotong royong. Masing-masing desa menyumbangkan dana sebesar Rp5 juta untuk membiayai seluruh rangkaian kegiatan. Warga bersama pemuka adat menyiapkan sesaji, memasak hidangan dalam belanga besar menggunakan kayu bakar, serta menyiapkan berbagai perlengkapan yang menjadi bagian dari prosesi adat.
Dalam pelaksanaannya, sejumlah hewan kurban seperti ayam, kambing, domba, anjing, dan babi disembelih sesuai tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun. Prosesi berlangsung khidmat di tepi sungai dan diikuti berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, aparat desa, anggota TNI dan Polri, petani, hingga anak-anak yang datang menyaksikan ritual tersebut.
Bagi masyarakat setempat, Morra Keke bukan sekadar tradisi meminta hujan. Ritual ini juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial antarwarga yang selama ini bergantung pada sumber air yang sama. Melalui ritual tersebut, masyarakat menegaskan kembali nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam yang menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
“Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar masyarakat dalam memohon kepada Sang Pencipta agar hujan kembali turun sehingga kehidupan masyarakat dan lahan pertanian memperoleh keberkahan,” kata Aswan Meni dari Lembaga Adat Desa Watunonju.
Rangkaian Morra Keke ditutup dengan tradisi Makan Uvempoi atau makan bersama menggunakan hasil kurban yang telah dimasak selama prosesi berlangsung. Di tengah tantangan perubahan iklim dan berkurangnya sumber daya air, ritual yang kembali digelar setelah puluhan tahun itu menjadi pengingat bahwa tradisi adat tidak hanya menyimpan nilai budaya, tetapi juga merekatkan solidaritas masyarakat dalam menghadapi persoalan bersama.
View this post on Instagram











