Opini

Impostor Syndrome: Ketika Pikiran Meragukan Kemampuan Diri

×

Impostor Syndrome: Ketika Pikiran Meragukan Kemampuan Diri

Share this article

Oleh: Muh. Nasrullah *)

Ilustrasi. (©AI Generative)
Ilustrasi. (©AI Generative)

Bukan kurangnya kemampuan yang menjadi masalah — melainkan cara kita memandang diri sendiri. Impostor syndrome adalah perang batin yang sering dialami oleh mereka yang justru paling berpotensi.

Di saat kesuksesan dan pencapaian semestinya menjadi sesuatu yang dirayakan, ada satu kondisi psikologis yang justru membuat seseorang meragukan dirinya sendiri: impostor syndrome. Alih-alih merasa bangga atas keberhasilan yang diraih, individu dengan kondisi ini justru cenderung merasa cemas, ragu, bahkan takut suatu saat “ketahuan” bahwa dirinya sebenarnya tidak selayak yang dibayangkan orang lain.

Impostor syndrome adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak cukup kompeten, meskipun bukti keberhasilan sudah jelas terlihat. Kesuksesan dianggap sebagai keberuntungan semata, bukan hasil kerja keras dan kemampuan nyata. Yang menarik — dan sekaligus ironis — kondisi ini justru paling sering dialami oleh individu yang memiliki kemampuan dan potensi besar.

Mahasiswa dan Jebakan Perbandingan

Di lingkungan perkuliahan, impostor syndrome adalah tamu yang sering tidak diundang. Tidak sedikit mahasiswa yang membandingkan kemampuan dirinya dengan teman yang tampak lebih aktif, lebih pintar, atau lebih produktif. Akibatnya, mereka merasa harus selalu tampil sempurna untuk dianggap layak — bahkan dalam kondisi ekstrem, menjadi terlalu bergantung pada kemampuan orang lain karena tidak percaya pada diri sendiri.

Di era digital, kondisi ini semakin parah. Media sosial menampilkan standar kesuksesan yang tampak sempurna: prestasi akademik gemilang, karier impian, gaya hidup ideal. Yang jarang terlihat adalah proses, kegagalan, dan keraguan di baliknya. Tanpa disadari, konsumsi konten seperti ini memicu kebiasaan membandingkan diri yang menggerus kepercayaan diri secara perlahan.

“Akar permasalahan bukan kurangnya kemampuan, melainkan cara seseorang memandang dirinya sendiri.”

Lingkaran Keraguan yang Melelahkan

Individu yang mengalami impostor syndrome sering kali terjebak dalam lingkaran yang melelahkan. Pujian dari orang lain sulit diterima karena dianggap tidak mencerminkan kenyataan. Standar pribadi yang terlalu tinggi membuat pencapaian apapun terasa tidak pernah cukup. Kesalahan kecil pun terasa seperti kegagalan besar — dan kepercayaan diri pun terkikis sedikit demi sedikit.

Dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Dalam jangka pendek, individu menjadi ragu mengambil peluang atau justru bekerja berlebihan demi membuktikan kelayakan diri. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu kelelahan mental (burnout), kecemasan, bahkan depresi ringan. Hubungan sosial pun bisa terdampak: mereka cenderung menutup diri dan sulit menerima dukungan dari orang sekitar.

Keluar dari Bayang-Bayang Diri Sendiri

Langkah pertama keluar dari jebakan ini adalah dengan belajar mengakui setiap keberhasilan — sekecil apapun. Bukan karena kesombongan, melainkan karena kejujuran: bahwa pencapaian itu nyata, dan itu hasil dari kerja keras kita sendiri.

Selain itu, penting untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Setiap individu memiliki proses, tantangan, dan waktunya masing-masing. Apa yang terlihat sempurna di permukaan belum tentu mencerminkan perjalanan sesungguhnya. Dukungan lingkungan sekitar juga sangat berarti — perasaan dihargai dan tidak sendirian menghadapi tekanan bisa menjadi modal psikologis yang kuat.

“Kegagalan bukan bukti ketidakmampuan. Justru dari kesalahan itulah seseorang dapat tumbuh dan menjadi lebih baik.”

Menerima bahwa kesalahan adalah bagian wajar dari proses belajar juga menjadi kunci penting. Tidak ada seorang pun yang sepenuhnya sempurna — dan menuntut kesempurnaan dari diri sendiri hanya akan memperpanjang penderitaan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Impostor syndrome mengajarkan bahwa mengubah cara pandang terhadap diri adalah perjuangan yang layak dilakukan — bukan untuk merasa sempurna, tetapi untuk memahami bahwa kita sudah cukup mampu untuk terus berkembang.


*) Muh. Nasrullah adalah mahasiswa UIN Datokarama Palu.

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 9 May, 2026

Leave a Reply

Ilustrasi (©AI Generative)
Opini

DI tengah tekanan fiskal yang semakin nyata, pemerintah daerah dituntut untuk berpikir melampaui cara-cara konvensional. Ketika ruang anggaran menyempit, sementara kebutuhan publik terus meningkat, pilihan kebijakan tidak lagi berada pada spektrum ideal, melainkan pada spektrum yang mungkin.