BisnisLingkungan

PT Vale Tunjukkan Pemulihan Fungsi Lahan Pascatambang

×

PT Vale Tunjukkan Pemulihan Fungsi Lahan Pascatambang

Share this article
Seorang pengunjung mengamati pepohonan Hutan Himalaya di kawasan pertambangan nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Jumat (2/8/2024). Hingga akhir Juni 2024, PT Vale Indonesia telah merehabilitasi lahan bekas tambangnya menjadi hutan hijau seluas 3.780 hektare dari 5.761 hektare luasan area tambang atau sekitar 65 persen dan telah menanam lebih dari 4,83 juta bibit pohon sebagai komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan. bmzIMAGES/Basri Marzuki
Seorang pengunjung mengamati pepohonan Hutan Himalaya di kawasan pertambangan nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Jumat (2/8/2024). Hingga akhir Juni 2024, PT Vale Indonesia telah merehabilitasi lahan bekas tambangnya menjadi hutan hijau seluas 3.780 hektare dari 5.761 hektare luasan area tambang atau sekitar 65 persen dan telah menanam lebih dari 4,83 juta bibit pohon sebagai komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan. bmzIMAGES/Basri Marzuki

JAKARTA, beritapalu | Tantangan lingkungan akibat praktik pertambangan yang tidak bertanggung jawab menjadi sorotan dunia, terutama dari negara-negara Eropa yang mengkritik kontribusi Indonesia terhadap krisis lingkungan global.

Namun, di tengah bayang-bayang tersebut, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) telah menunjukkan bahwa pertambangan bisa dan harus dilakukan dengan cara yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi lingkungan serta masyarakat.

Salah satu upaya nyata PT Vale ditampilkan dalam forum keberlanjutan di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (8/8/2024).

Dalam sesi presentasi bertajuk ‘Mining Industry Under The Spotlight: Validating Commitment and Sustainability Impact’, Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale, Bernardus Irmanto yang di hadiri ratusan pengamat lingkungan, mengungkapkan visi keberlanjutan perusahaan yang berkomitmen untuk menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

“Di tengah kritik dari berbagai pihak terhadap praktik pertambangan, PT Vale terus menunjukkan bahwa pertambangan yang bertanggung jawab tidak hanya mungkin dilakukan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Sejak berdiri pada 1968, PT Vale telah mempelopori hilirisasi di Indonesia, jauh sebelum kebijakan tersebut populer,” ujar Bernardus.

Menghadapi tantangan dari berbagai pihak, Bernardus menjelaskan bagaimana PT Vale telah memimpin perubahan dengan membangun pabrik pengolahan sejak tahun 1970 dan memproduksi nickel matte pada 1978, tanpa pernah mengekspor ore tanpa proses pengolahan di tanah air.

Pada kesempatan tersebut, Bernardus juga menekankan pentingnya pemulihan fungsi lahan pasca-tambang, di mana PT Vale telah berhasil merehabilitasi 66% lahan tambang dengan metode reklamasi progresif. “Kami juga berkomitmen untuk melakukan rehabilitasi lahan di luar area konsesi, mencakup lebih dari 12 ribu hektare, hampir tiga kali lipat dari area yang telah dibuka untuk tambang,” tambahnya.

Bernardus menyoroti pula bagaimana PT Vale menjadi pionir dalam penggunaan energi bersih dengan membangun tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi dampak lingkungan dan mendukung penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan.

Dalam konteks praktik pertambangan berkelanjutan, Bernardus memberikan contoh nyata terkait keberadaan Danau Matano di Sorowako sebagai bukti komitmen tersebut. “Kami menjaga kualitas air di Danau Matano dengan sangat ketat, bahkan kualitasnya lebih baik daripada air minum botol,” ungkapnya, menjadikan danau ini sebagai cerminan bagaimana pertambangan bersih dilakukan di area operasi PT Vale.

Selain upaya lingkungan, PT Vale juga aktif dalam memberdayakan komunitas masyarakat lokal di sekitar area operasional. Berbagai program dan lembaga binaan ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat.

Bagi PT Vale, dengan menjalankan pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, PT Vale memastikan bahwa kita bukan hanya menjaga keberlanjutan lingkungan, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik, di mana lingkungan, masyarakat, dan industri dapat berkembang harmonis dan sejahtera bersama. (afd/*)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 9 August, 2024
Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan (Fahutan) Untad, Rabu (22/04/2026). (©ROA Sulteng)
Lingkungan

Hasil kajian ekosistem mangrove di kawasan Oncone Raya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, di mana dari luas sekitar 31,44 hektar, hanya sekitar 18,7% yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3% telah beralih menjadi tambak dan 31% merupakan areal terbuka.