InspirasiLingkunganPoso

Danau, Sungai Poso dan Laut Poso Tercemar Mikroplastik

×

Danau, Sungai Poso dan Laut Poso Tercemar Mikroplastik

Share this article
Pengambilan sampel air di Danau Poso untuk penelitian kandungan mikroplastik pada workshop Saya Pilih Bumi, Jumat (12/7/2024). (Foto: Institut Mosintuwu)
Pengambilan sampel air di Danau Poso untuk penelitian kandungan mikroplastik pada workshop Saya Pilih Bumi, Jumat (12/7/2024). (Foto: Institut Mosintuwu)

POSO, beritapalu | Penelitian singkat yang dilakukan sejumlah peserta Workshop ‘Saya Pilih Bumi: Tolak Plastik Sekali Pakai’ dengan sampel air di Danau Poso, Sungai Poso dan Laut Poso menunjukkan bahwa air di ketiga tempat itu telah tercemar mikroplastik.

Tak itu saja, sampel yang ditangkap dari udara di kelurahan Pamona dan dari dua wajah peserta workshop, juga menunjukkan hasil yang sama, tercemar mikroplastik.

Temuan ini cukup mencengangkan, terutama bagi peserta workshop. Bagaimana tidak, Kabupaten Poso merupakan kabupaten dengan 3 air, yaitu danau, sungai dan laut yang saling terhubung satu sama lain menghadapi tantangan kepungan plastik yang dibuang sembarangan. Padahal, sebagian besar warga menggantungkan sumber airnya pada danau dan sungai, serta mata pencahariannya di danau atau laut.

Temuan itu juga memantik kesadaran peserta workshop untuk membuat aksi nyata pencegahan makin meluasnya pencemaran mikroplastik itu. Lenny Palese misalnya, salah seorang peserta workshop mengungkapkan pentingnya kesadaran tentang keberadaan mikroplastik ini untuk bisa menyusun rencana bersama mencegahnya.

“Sebagai warga masyarakat dan komunitas yang mengetahui mengenai keberadaan mikroplastik di Kabupaten Poso dan bahaya mikroplastik, kami ingin agar Kabupaten Poso bisa bebas plastik sekali pakai,” ujarnya.

Sumber: Institu Mosintuwu
Sumber: Institu Mosintuwu

Workshop ‘Saya Pilih Bumi: Tolak Plastik Sekali Pakai’ yang dirangkai dengan penelitian singkat itu diikuti sejumlah pelajar dari beberapa sekolah dan warga di Kecamatan Pamona Utara dan Pamona Puselemba serta di Desa Tokorondo kecamatan Poso Pesisir.

Workshop itu diselenggarakan oleh Komunitas Okotaka dan Orang Tokorondo dalam rangkaian kegiatan PGM JISRA, bekerjasama dengan Ecoton dan Institut Mosintuwu sejak Selasa, 9 Juli hingga 12 Juli 2024. Kegiatan ini dilakukan di Dodoha Mosintuwu , aula Pertemuan Desa Tokorondo dan Pondok Pesantren Gontor khususnya bersama santri Putra.

Workshop itu dilatarbelakangi pengamatan langsung dan pengalaman komunitas Okotaka dan komunitas Orang Tokorondo serta Institut Mosintuwu tentang pemahaman bahaya plastik sekali pakai sangat kurang, sementara pengelolaan sampah masih sangat minim, sehingga penting membicarakannya dalam serangkaian workshop secara khusus bersama anak muda.

Prigi Arisandi, pendiri Ecoton yang pernah melakukan Ekspedisi Sungai Nusantara di Indonesia mengajak peserta workshop untuk mengetik kata kunci “orang Indonesia paling banyak makan plastik” di mesin pencari.

Kata kunci ini mengawali cerita Prigi mengenai mikroplastik. Mikroplastik adalah remah-remah plastik berukuran kurang dari 5 mm. Daru Setyorini, peneliti Ecoton menjelaskan mikroplastik tersebut saat ini telah ditemukan di banyak bagian tubuh manusia.

“Mikroplastik ditemukan di air itu sudah banyak penelitian dan tulisan di jurnal. Namun mikroplastik ternyata juga sudah ditemukan di feses manusia, di paru-paru, di air susu ibu , di plasenta, di otak bahkan dalam darah”

Nina, panggilan akrab Aesnina Aqilani , aktivis muda co-captain River yang ikut menjadi narasumber dalam workshop berulangkali menyebutkan bahwa generasi muda berhak untuk mendapatkan udara yang bersih, sungai yang jernih dan lingkungan yang sehat di masa depan. “Jangan sampai hak kita atas udara yang bersih, sungai yang jernih dan lingkungan yang sehat dirampas oleh masa sekarang dengan meninggalkan banyak sampah plastik terutama mikroplastik “

Nina mengingatkan bahwa meskipun jumlah partikel mikroplastik dalam penelitian singkat di sampel yang dikumpulkan dalam serangkaian workshop ini tergolong sedikit jika dibandingkan dengan yang ada di Jawa, namun penting untuk melakukan pencegahan agar tidak semakin banyak jumlahnya.  (afd/*)

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 13 July, 2024
Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan (Fahutan) Untad, Rabu (22/04/2026). (©ROA Sulteng)
Lingkungan

Hasil kajian ekosistem mangrove di kawasan Oncone Raya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, di mana dari luas sekitar 31,44 hektar, hanya sekitar 18,7% yang masih berupa vegetasi mangrove, sementara 50,3% telah beralih menjadi tambak dan 31% merupakan areal terbuka.