LUWUK, beritapalu.ID | Burung Indonesia menyelenggarakan lokakarya akhir Diseminasi dan Refleksi Capaian Proyek Perikanan Berkelanjutan dan Tata Kelola Kawasan Konservasi Persisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Dalaka, mencatat pencapaian signifikan dengan 97,33 persen perubahan perilaku positif masyarakat menuju praktik perikanan berkelanjutan.
Lokakarya yang digelar di Luwuk, Kabupaten Banggai, Kamis (23/4/2026) itu menunjukkan hasil pendampingan di lima desa strategis sejak tahun 2022, yakni Desa Tangkop, Okumel, Kinandal, Tomboniki, dan Mamulusan di Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.
Marine-Fisheries Specialist Burung Indonesia Wahyu Teguh Prawira mengatakan proyek telah menghasilkan lima peraturan desa (Perdes) untuk memperkuat tata kelola perikanan di tingkat lokal, mencakup penguatan kelembagaan nelayan, perlindungan ekosistem pesisir, serta pengaturan praktik penangkapan ikan yang lebih bertanggung jawab.
“Program perikanan berkelanjutan di Banggai Kepulauan telah mendorong 97,33 persen perubahan perilaku positif masyarakat dan meningkatkan praktik ramah lingkungan sebesar 66 persen. Inisiatif ini juga mewujudkan 60 persen kemandirian ekonomi perempuan nelayan serta memperkuat tata kelola enam kawasan konservasi,” ujar Wahyu Teguh Prawira.
Lokakarya melibatkan tim Pemantauan Layanan Alam (PLA) desa, kelompok nelayan, pemerintah desa, hingga instansi terkait seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tengah, Dinas Perikanan Kabupaten Banggai Kepulauan, Polairud Polres Banggai Kepulauan, dan UPTD Dalaka.
Rangkaian lokakarya menghadirkan dua sesi diskusi panel dengan nelayan, pemerintah desa, dan perwakilan kelompok perempuan sebagai narasumber utama. Sesi ini menjadi ruang bagi mereka untuk berbagi pengalaman langsung mengenai transformasi dan dinamika sosial-ekonomi di desa masing-masing.

Salah satu kisah sukses adalah Nurfadilah, Ketua Kelompok Kindal Molumbang dari Desa Kinandal, yang awalnya ibu rumah tangga biasa, kini membantu perekonomian keluarga melalui program pemberdayaan perempuan.
“Melalui program ini, saya dan ibu-ibu kelompok lainnya sudah paham cara mengolah sambal ikan asin dengan standar yang baik, menghitung untung rugi, hingga strategi pemasaran produk kami,” ungkap Nurfadilah.
Nelayan Aptrisno dari Desa Mamulusan juga merasakan dampak positif. “Dulu ikan sangat sedikit, namun setelah kami tahu cara mengelola habitat dengan baik dan cara menangkap yang berkelanjutan, banyak ikan yang datang dan jarak memancing lebih dekat, sehingga mengurangi biaya operasional kami,” tuturnya.
Lokakarya juga diiringi Pameran Produk Perikanan yang menampilkan hasil olahan dari Kelompok Usaha Bersama (KUBE) perempuan, mencakup ikan asin filet, sambal ikan asin, kerupuk ikan, abon ikan, dan bakso ikan.
Proyek yang didukung oleh Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman dan diimplementasikan bersama NABU (anggota kemitraan BirdLife International) ini secara resmi berakhir pada 30 April 2026.






