FeatureFotoInspirasiPaluRamadhan

Ramadhan Heroes: Ketika Anak-Anak Yatim Memilih Sendiri Baju Kemenangan Mereka

×

Ramadhan Heroes: Ketika Anak-Anak Yatim Memilih Sendiri Baju Kemenangan Mereka

Share this article
Relawan RUmah Dua Jari memakaikan baju baru kepad aseorang anak pada Belanja Bahagia Bersama Dhuafa di PGM Palu, Jumat (6/3/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Relawan RUmah Dua Jari memakaikan baju baru kepad aseorang anak pada Belanja Bahagia Bersama Dhuafa di PGM Palu, Jumat (6/3/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.ID | Mata Lutfia berbinar. Bocah delapan tahun itu berdiri di depan rak pakaian di Palu Grand Mall (PGM), tangannya menyentuh satu per satu baju yang tergantung rapi. Ia ragu sebentar, lalu tersenyum lebar ketika memilih sebuah baju berwarna biru. Hari itu, mungkin untuk pertama kalinya, ia merasakan nikmatnya memilih baju lebaran sendiri.

Lutfia adalah satu dari 150 anak yatim dan duafa yang menjadi penerima manfaat program Terima Hagala Ramadan (THR) jilid dua yang digagas Yayasan Rumah Dua Jari, Jumat (6/3/2026). Di bawah tema Ramadan Heroes, yayasan sosial asal Palu ini kembali menghadirkan momen yang tampak sederhana — namun menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar belanja pakaian.

“Kami membawa anak-anak untuk nantinya mereka memilih sendiri pakaian kemenangan atau baju lebaran mereka,” ujar Ketua Panitia THR Rumah Dua Jari, Muhammad Saldy di sela-sela perburuan baju lebaran bagi kaum dhuafa itu.

Kegiatan ini bukan sekadar bagi-bagi baju. Ia dirancang sebagai sebuah pengalaman — pengalaman yang oleh panitia disebut sebagai pengalaman heroes. Selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu (6–8 Maret 2026), sebanyak 150 anak dari delapan kecamatan di Kota Palu silih berganti hadir dalam tiga kloter, masing-masing 50 anak per hari. Mereka bukan berasal dari panti asuhan, melainkan anak-anak yatim, piatu, dan duafa yang hidup di tengah masyarakat — yang kerap luput dari perhatian.

Saldy menjelaskan, setiap nama dalam daftar penerima manfaat telah melewati proses verifikasi langsung di lapangan. Usia pun dibatasi antara 6 hingga 12 tahun agar bantuan benar-benar menyasar anak-anak yang masih dalam masa tumbuh dan membutuhkan.

Setelah sesi belanja, anak-anak tidak langsung pulang. Mereka diarahkan menuju lokasi kegiatan utama untuk mengikuti rangkaian acara yang tak kalah bermakna: Hero Talk dan Hero Challenge — dua sesi inspiratif yang dirancang untuk menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri. Perjalanan hari itu kemudian ditutup dengan buka puasa bersama dan penyerahan bingkisan khusus Ramadan sebagai bekal menyambut Idulfitri.

Program THR sendiri bukan barang baru bagi Rumah Dua Jari. Tahun lalu, kegiatan serupa meninggalkan kesan mendalam, baik bagi anak-anak maupun para donatur yang turut hadir menyaksikan langsung keceriaan yang mereka ciptakan bersama. Kisah-kisah itulah yang mendorong panitia untuk kembali melaksanakannya dengan semangat yang lebih besar.

Di balik senyum anak-anak itu, ada tangan-tangan yang bekerja diam-diam — para donatur yang oleh Rumah Dua Jari dijuluki Hero Tanpa Jubah. Saldy tak sungkan mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada mereka.

“Kami sangat berterima kasih kepada donatur yang sudah mendukung dan berharap orang-orang baik terus membersamai kami,” tuturnya penuh haru.

Di kota yang pernah diguncang bencana, di tengah kehidupan yang masih tertatih bagi sebagian warganya, Ramadhan kali ini setidaknya menawarkan satu cerita yang berbeda — cerita tentang anak-anak kecil yang berjalan pulang dengan senyum, membawa di tangan mereka selembar harapan berwujud baju baru, dan di dada mereka, sebuah rasa: bahwa mereka pun berhak merayakan kemenangan.

Editor: beritapalu
Penulis: beritapalu
Tanggal: 6 March, 2026
Siswa mengenakan baju tradisional berjalan di atas karpet pada fashion show merayakan Hari Kartini di SD Inpres Palupi, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (21/4/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Feature

Suasana di SD Inpres Palupi, Palu, Selasa (21/4/2026) berbeda dari biasanya. Sejak pukul 07.30 WITA, satu per satu siswa berdatangan dengan balutan pakaian tradisional. Anak laki-laki mengenakan batik, beberapa lengkap dengan peci atau penutup kepala khas daerah, sementara anak perempuan tampil anggun dengan kebaya dan busana tradisional beragam warna.

Kakanwil Ditjenpas Sulteng Bagus Kuniawan (tengah depan) bersama sejumlah Kepala UPT Pemasyarakatan memberikan keterangan usai pembacaa Ikrar Halinar di halaman Lapas Kelas IIA Palu, Senin (20/4/2026). (©bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Headline

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah (Kanwil Ditjenpas Sulteng) menggelar Ikrar Zero Halinar (handphone ilegal, pungutan liar, dan narkoba) yang diikuti seluruh jajaran Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di Lapangan Upacara Lapas Kelas IIA Palu, Senin (20/04/2026).